Basarnas: Koordinasi lintas sektoral diperlukan tangani bencana

Basarnas: Koordinasi lintas sektoral diperlukan tangani bencana

Deputi Bidang Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas, Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto, di Natar, Lampung Selatan, Kamis (19/9/2019) (ANTARA/Agus Wira Sukarta)

Lampung Selatan (ANTARA) - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengatakan bahwa koordinasi lintas sektoral sangat diperlukan untuk menangani bencana.

"Indonesia merupakan daerah yang sangat berpotensi terjadi bencana, oleh karena itu perlu upaya identifikasi, analisis dalam mengambil tindakan pencegahan sehingga dapat mengurangi risiko pada suatu kecelakaan dan bencana," kata Deputi Bidang Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas, Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto, pada Koordinasi dan Peningkatan Kapasitas Pencarian dan Pertolongan Basarnas Lampung di Natar, Lampung Selatan, Kamis.

Menurutnya, dengan semakin meningkatnya intensitas kecelakaan maupun bencana saat ini, maka perlu upaya secara komprehensif multisektor terpadu terkoordinasi antarpemerintah pusat dan daerah.

Selain itu, lanjut dia, koordinasi juga harus tetap dilakukan secara bersama-sama seperti dengan TNI-Polri, LSM, masyarakat, dan lembaga terkait lainnya.

Nugroho menjelaskan, berbagai bencana yang telah terjadi harus menjadi pelajaran agar bisa meminimalisir risiko bencana, seperti di Lampung dan Banten yang pada akhir tahun 2018 terkena gelombang tsunami yang merenggut korban ratusan jiwa.

Di sisi lain, Deputi Bidang Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas itu mengatakan, jumlah personel Basarnas di Indonesia saat ini hanya 3.316 personel, jumlah itu masih jauh dari ideal.

Basarnas, lanjut dia, membutuhkan sekitar 10.000 personil, oleh karena itu pembinaan potensi sangat diperlukan untuk memaksimalkan sumber daya yang ada.

Karena itu, ia akan meminta kepada pemerintah terkait sumber daya manusia yang dimiliki Basarnas saat ini.

"Kami akan meminta kepada pihak terkait termasuk Kemen PAN, rencana penambahan personel," ujarnya.

Nugroho dalam kesempatan itu akan membuat rencana kontijensi, koordinasi antara forkopimda dan jajarannya dalam rangka mengantisipasi kemungkinan terjadi di wilayah Lampung.

"Hal ini, supaya kita lebih siap dalam menghadapi kejadian yang tidak kita inginkan seperti bencana maupun kecelakaan," ujarnya.

Kepala Basarnas Lampung, Jumaril, mengatakan, bahwa pihaknya akan meningkatkan kemampuan keterampilan kesiapsiagaan dan kerjasama personel SAR Lampung dan potensi SAR yang ada di daerah setempat dalam mengantisipasi kecelakaan dan bencana yang berpotensi terjadi.

Rapat koordinasi pencarian dan pertolongan diikuti 47 orang peserta diadakan tanggal 19-20 September 2019, untuk latihan potensi pencarian dan pertolongan daerah diadakan dari tanggal 25-26 September 2019 dengan 49 peserta.

"Sedangkan peserta pelatihan bagi potensi SAR berjumlah 60 orang berasal dari masyarakat yang direkrut dari 15 kab/kota diadakan selama enam hari dari tanggal 19-24 September 2019," tambah Jumaril.

Pewarta : Agus Wira Sukarta
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019