Jelang musim hujan, lima eksvator perdalam Waduk Pondok Ranggon

Jelang musim hujan, lima eksvator perdalam Waduk Pondok Ranggon

Warga RT02 RW01 Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, memancing ikan di lokasi pengerukan Waduk Pondok Ranggon, Selasa (17/9/2019). Waduk Pondok Ranggon dikeruk oleh Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta dalam rangka meminimalisasi dampak banjir di bantaran Kali Sunter. ANTARA/Andi Firdaus/pri

Jakarta (ANTARA) -
Sebanyak lima alat berat dikerahkan oleh Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta untuk mengeruk Waduk Pondok Ranggon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Selasa siang.

"Kita sejak satu hingga dua bulan lalu sudah instruksikan ke beberapa bidang dan suku dinas untuk segera melakukan pengerukan beberapa waduk untuk mengantisipasi musim penghujan nanti," kata Kepala Dinas SDA DKI Jakarta Juaini Yusuf di Jakarta.
 
Waduk Pondok Ranggon di RT002 RW001 menjadi salah satu dari tiga waduk yang sedang dikeruk oleh SDA Jakarta untuk menghadapi musim banjir saat musim hujan.
 
Selain Waduk Pondok Ranggon, kata dia, dua waduk lainnya yang juga sedang dikeruk yakni Waduk Kampung Rambutan dan Waduk Cimanggis.
 
Terdapat sedikitnya tujuh operator alat berat yang bertugas mengoperasionalkan eksavator di sekitar Waduk Ranggon.

Baca juga: Cegah pendangkalan, Pemprov DKI keruk Waduk Pluit
 
Namun mereka tidak berkenan memberikan komentar terkait aktivitas di lokasi.
 
Warga RT002 RW001 Pondok Ranggon, Yulis (41) mengatakan, pengerukan waduk sudah berjalan sejak Juni 2019.
 
"Biasanya mulai jam 05.00 WIB sampai sore hari mereka bekerja keruk waduk," ujar pria yang rumahnya berada di tepi waduk.
 
Waduk Pondok Ranggon seluas 8,4 hektare saat ini progresnya telah mencapai 15 persen rampung untuk mencapai kedalaman delapan meter.Waduk tersebut diproyeksikan mampu mengurangi beban tampung air di Kali Sunter saat musim hujan tiba.
 
Dengan dibaginya debit air Kali Sunter melalui area tangkap air di Waduk Pondok Ranggon, diharapkan banjir di sekitar kawasan Cipining Melayu, Cipinang Muara, Jakarta Timur bisa teratasi.
Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019