Jumlah desa terdampak kekeringan di Ngawi bertambah

Jumlah desa terdampak kekeringan di Ngawi bertambah

Petugas BPBD Jatim dan BPBD Ngawi saat memberikan bantuan air bersih di wilayah Ngawi yang terdampak kekeringan. (Istimewa)

Madiun (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi, Jawa Timur mencatat jumlah desa di wilayah setempat yang mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun 2019 bertambah dari semula 45 menjadi 47 desa.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ngawi, Teguh Puryadi mengatakan dua desa tambahan itu adalah Desa Mantingan dan Pengkol di Kecamatan Mantingan.

"Lokasi desanya ada di pegunungan kapur, sehingga sulit menyimpan air," ujar Teguh Puryadi kepada wartawan di Ngawi, Sabtu.

Baca juga: ACT gelontorkan bantuan air bersih untuk warga Gresik

Menurut dia, bertambahnya jumlah desa terdampak kekeringan tersebut tidak lepas dari kondisi beberapa pekan terakhir yang merupakan puncak kemarau.

Guna mengatasi kekeringan tersebut, BPBD Ngawi terus melayani distribusi bantuan air bersih ke desa-desa yang terdampak.

Dalam sehari, jajarannya bisa melakukan pendistribusian air bersih sebanyak lima hingga tujuh truk tangki ke desa-desa terdampak tersebut.

"Kemungkinan desa yang mengajukan pengiriman bantuan air bersih masih terus bertambah," kata dia.

Pihaknya menyebut terdapat sejumlah kendala dalam proses pendistribusian bantuan air bersih. Di antaranya, antre pengisian air ke dalam truk tangki. Satu truk rata-rata antre hingga empat jam, sebelum akhirnya air didistribusikan.

Baca juga: BPBD Ngawi tunggu dana penanggulangan kekeringan dari Pemprov Jatim

Selain itu, beberapa desa belum memiliki tandon besar tempat penampungan air bersih. Hal itu tentu menyulitkan petugas saat mendistribusikan air bantuan.

"Akhirnya kami siasati dengan membuat kolam dari plastik terpal. Sehingga air dapat tertampung untuk beberapa waktu," kata dia.

Sumarni, salah satu warga di Desa Kerek yang mendapat bantuan air bersih, mengaku sangat senang dengan bantuan tersebut. Ia mengatakan sejak dua bulan terakhir sumur-sumur di dusun tempat tinggalnya mulai mengering.

Selain itu, setiap hari dia juga harus bolak-balik mencari air bersih ke desa tetangga saat bantuan air bersih belum dapat dikirim karena jadwalnya bergantian.

"Setiap tahun saat musim kemarau ya seperti ini. Namun, tahun ini paling parah," kata dia.

Baca juga: BMKG: Sejumlah wilayah Jatim berpotensi terjadi kekeringan ekstrim
Pewarta : Louis Rika Stevani
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019