Kepala BRG katakan restorasi gambut masih butuh waktu puluhan tahun

Kepala BRG katakan restorasi gambut masih butuh waktu puluhan tahun

Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead dalam media briefing di Jakarta Pusat, Jumat (13/9) (ANTARA/Prisca Triferna)

Jakarta (ANTARA) - Badan Restorasi Gambut (BRG) mengakui masih sangat sulit untuk merestorasi secara sempurna 2 juta hektare lahan gambut yang ditargetkan dalam waktu lima tahun hingga tidak terbakar lagi, ungkap Kepala BRG Nazir Foead.

"Paling tidak kita sudah membangun fondasi dan sudah dalam jalur yang benar untuk memulihkan kembali. Tapi untuk sampai pulih dengan kemungkinan kebakaran tidak ada lagi, itu butuh waktu puluhan tahun," ungkap Nazir dalam diskusi media membahas penyikapan karhutla, khususnya di lahan gambut, di Jakarta, Jumat.

Indonesia, sebagai negara dengan lahan gambut tropis terbesar di dunia, memang sudah seharusnya memiliki lembaga yang mengurus restorasi gambut mengingat banyak lahan tersebut yang sudah rusak, ungkap Nazir.

Baca juga: BRG: Pembenahan ekosistem gambut harus diperkuat untuk atasi karhutla

Dia sendiri mengakui BRG, sebagai lembaga muda yang baru berusia 3 tahun, masih berusaha mencari pendekatann paling tepat untuk melakukan restorasi lahan gambut, karena setiap lahan gambut memiliki kesatuan hidrogis gambut (KHG) dengan luas yang berbeda.

Untuk mengelola semua KHG, diperlukan pendekatan yang berbeda. Selama ini, ungkap Nazir pemerintah masih bekerja dengan mode emergency atau darurat dengan pendekatan satu per satu bukan masalah secara keseluruhan.

Baca juga: Sumur bor fiktif di Kalteng bukan milik BRG

Nazir mengatakan untuk itu harus dilakukan pengambilan kebijakan berbeda menyikapi permasalahan restorasi gambut.

Langkah restorasi lahan gambut sendiri sudah masuk dalam Rencana Pemerintah Jangka Menengah (RPJMN) IV 2020 hingga 2024 yang menekankan visi pembangunan hijau yang mengutamakan rencana pembangunan berkelanjutan.

Indonesia sudah berada di jalur yang benar dalam proses pemulihan gambut, ungkap Nazir meski hasilnya tidak bisa dilihat saat ini juga.

"Gambut kita masih butuh pemulihan. Kita baru bekerja tiga setengah tahun, harus puluhan tahun baru kita bisa berdiri melihat semua gambut sudah kembali sehat," tegasnya.

Baca juga: Kebakaran lahan gambut di Penajam belum berhasil dipadamkan
Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019