Gelombang perairan selatan Kalimantan capai 4 meter

Gelombang perairan selatan Kalimantan capai 4 meter

Petugas KSOP Banjarmasin mengamati kapal jenis Roro yang berlayar ke Surabaya dari Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. (ANTARA/Firman)

Banjarbaru (ANTARA) - Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor Banjarmasin pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini waspada risiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran menyusul potensi gelombang
perairan selatan Kalimantan yang mencapai 4 meter.

Staf Prakirawan Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor Banjarmasin, Muhammad Shaa Imul Qadri di Banjarbaru, Senin, mengatakan, tinggi gelombang di laut Jawa bagian timur perairan selatan Kalimantan disebabkan sejumlah faktor.

Di antaranya terdapat tekanan rendah yang berjejer (low-pressure trough) yang memanjang dari laut Cina selatan hingga laut Filipina bagian timur, sehingga mempengaruhi pola angin di wilayah Indonesia.

"Di perairan wilayah Kalimantan Selatan sendiri, kecepatan arah angin dari tenggara hingga selatan 4 sampai 23 knots. Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut," kata Shaa Imul.

Baca juga: BMKG ingatkan gelombang 3 meter di perairan selatan Kalsel

Baca juga: Gelombang tinggi kapal pelayaran tidak berani melaut

 
Staf Prakirawan Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor Banjarmasin, Muhammad Shaa Imul Qadri. (antara/foto/firman)


Untuk itu, potensi gelombang tinggi harus diwaspadai kapal nelayan, tongkang, feri dan kapal ukuran besar saat mengarungi laut Jawa bagian timur.

Kondisi rawan itu paling dominan terjadi saat siang hingga malam hari. Sedangkan untuk pagi hari dan dini hari biasanya sudah cenderung tenang.

"Kalau laut Jawa bagian barat, bagian tengah dan perairan Kotabaru relatif aman dengan potensi gelombang hanya 2 meter," kata
Shaa Imul.

Sedangkan untuk potensi badai, BMKG melihat tidak terjadi untuk saat ini mengingat belum ada potensi hujan di musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga Oktober 2019 mendatang.*
Pewarta : Firman
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019