KPAI: zonasi sekolah bisa bantu turunkan kasus kekerasan pada anak

KPAI: zonasi sekolah bisa bantu turunkan kasus kekerasan pada anak

Arsip Foto. Calon peserta didik baru menunjukkan lokasi tempat tinggalnya di peta daring saat proses verifikasi berkas dan pengambilan kode akun dalam pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur zonasi di SMPN 10 Denpasar, Bali, Selasa (18/6/2019). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/nym/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa penerapan sistem zonasi sekolah bisa membantu menurunkan kasus kekerasan pada anak.

"Karena teman main anak di rumah dan di sekolah sebagian besar sama dan orang tuanya saling mengenal," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyanti dalam paparannya di acara Rapat Kerja Nasional Membahas Permasalahan PPDB Sistem Zonasi di Jakarta, Kamis.

Penerapan sistem zonasi sekolah dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) mengharuskan calon peserta didik menempuh pendidikan di sekolah yang paling dekat dengan domisilinya. 

Selain bisa membantu menurunkan kasus kekerasan pada anak, menurut dia, penerapan sistem tersebut bisa mencegah tawuran antar-pelajar.

Penerapan sistem tersebut menurunkan kemungkinan perjumpaan siswa dari sekolah yang berbeda di perjalanan, yang selama ini menjadi salah satu faktor penyebab tawuran antar-pelajar.

"Selama ini, anak-anak terdorong untuk melakukan tawuran karena dipicu perjumpaan siswa dari sekolah yang berbeda selama di perjalanan dan di kendaraan umum menuju atau ketika pulang sekolah," kata Retno.

Ia mengatakan, penerapan sistem zonasi juga memberikan akses kepada seluruh anak Indonesia untuk menikmati pendidikan yang berkualitas tanpa batas status sosial, ekonomi, dan nilai ujian nasional.

Sistem itu akan menghilangkan status sekolah negeri favorit dan non-favorit dan selanjutnya diharapkan bisa memeratakan kualitas pendidikan di semua sekolah negeri.

Menurut Retno, penerapan sistem zonasi sejalan dengan pemenuhan kepentingan terbaik anak dan dapat mendorong anak mengoptimalkan diri sesuai potensi dan tingkat kecerdasan masing-masing.

Baca juga:
Sekolah belum jadi tempat aman bagi anak
Kekerasan seksual pada anak laki-laki meningkat
Pewarta : Katriana
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019