Prevalensi obesitas saat ini jadi ancaman defisit BPJS Kesehatan

Prevalensi obesitas saat ini jadi ancaman defisit BPJS Kesehatan

Dokter spesialis kesehatan olahraga dari RS Metropolitan Medical Centre dr Zaini K Saragih Sp.KO memberikan keterangan pada wartawan di Jakarta, Rabu (4/9/2019). (ANTARA/Aditya Ramadhan)

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis kesehatan olahraga menyebutkan prevalensi obesitas di Indonesia saat ini akan menjadi ancaman bagi defisit BPJS Kesehatan dalam penyelenggaraan program Jaminan Kesehatan Nasional lima tahun ke depan dikarenakan meningkatnya berbagai penyakit menular.

Dokter spesialis kesehatan olahraga dari RS Metropolitan Medical Centre dr Zaini K Saragih Sp.KO dalam temu media Hari Olahraga Nasional di Kementerian Kesehatan Jakarta, Rabu, menyebutkan tingginya angka obesitas di Indonesia dikarenakan berbagai faktor salah satunya kurang aktivitas fisik.

Zaini menjelaskan kondisi obesitas akan mengarah pada penyakit tidak menular seperti stroke, penyakit jantung, diabetes, gagal ginjal dan lainnya yang sebagian besar membebani biaya program JKN.

Baca juga: Masalah kegemukan cenderung meningkat di Indonesia
 

"Ini nanti akan jadi beban di lima tahun mendatang. Orang yang mengidap penyakit tidak menular saat ini, itu dampak dari lima tahun ke belakang," kata dia.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dalam Riset Kesehatan Dasar prevalensi obesitas orang dewasa terus meningkat sejak 2007 10,5 persen, 2013 14,8 persen, dan pada 2018 mencapai 21,8 persen.

Zaini menerangkan penyebab tingginya obesitas dikarenakan asupan makan yang tidak sehat dan tidak terkontrol, pola hidup tidak sehat, serta kurang aktivitas fisik.

Upaya untuk mengubah perilaku hidup masyarakat agar lebih sehat, kata dia harus dilakukan oleh lintas sektor tidak hanya Kementerian Kesehatan. Misalnya pemerintah daerah yang menyediakan sarana untuk warganya berjalan kaki, sarana olahraga, serta penyediaan ruang terbuka hijau untuk mengurangi polusi.

Baca juga: Kemenkes: Obesitas masalah kesehatan cukup serius

Zaini menambahkan Amerika Serikat yang saat ini kasus obesitasnya mencapai 38,2 persen diketahui karena kurang aktivitas fisik.

"Setelah dilakukan penelitian sejak 1900 hingga 1980, diketahui jumlah asupan kalori masyarakat tidak jauh berbeda, yang membedakan aktivitas fisik," lanjut dia.

Selain aktivitas fisik, jenis makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat Amerika di 1900 awal hingga 1980 berbeda dari jumlah serat. "Jenis makanannya juga beda, dulu tinggi serat sekarang rendah serat. Sehingga gampang jadi glukosa, terasa cepat lapar, dan makan lagi," kata Zaini.

Di Indonesia mengalami beban kesehatan ganda dimana saat ini penyakit tidak menular yang diakibatkan oleh gaya hidup semakin meningkat, disamping itu juga jumlah penyakit menular seperti TBC masih tinggi.

Baca juga: Pakar: Mengatasi obesitas anak bukan dengan kurangi porsi makan

Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019