BPBD Cilacap pantau dampak gelombang tinggi di perairan selatan Jateng

BPBD Cilacap pantau dampak gelombang tinggi di perairan selatan Jateng

Ilustrasi - Gelombang tinggi di perairan selatan Kabupaten Cilacap. (ANTARA/Sumarwoto)

Cilacap (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cilacap memantau dampak gelombang tinggi di perairan selatan Jawa Tengah terhadap wilayah pesisir, kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap Tri Komara Sidhy.

"Berdasarkan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG, tinggi gelombang di perairan selatan Jateng hari ini (Rabu,4/9) berpeluang mencapai 4-6 meter dan pada hari ini pula ada potensi pasang maksimum yang diprakirakan mencapai 1,8 meter pada pukul 11.00-12.00 WIB serta 2 meter pada tengah malam nanti, sehingga kami mengimbau warga yang bermukim di daerah pesisir untuk waspada terhadap kemungkinan terjadinya rob," katanya di Cilacap, Rabu.

Kendati demikian, dia mengakui jika masyarakat yang bermukim di daerah rawan rob sudah siaga dan selalu waspada terutama ketika banjir air pasang itu terjadi berbarengan dengan datangnya gelombang tinggi.
Baca juga: Tinggi gelombang laut selatan Jateng-DIY capai 6 meter, sebut BMKG

Saat ini, kata dia, masyarakat di daerah rawan rob telah membentuk kelompok-kelompok sukarelawan yang secara rutin memantau dampak banjir air pasang yang disertai gelombang tinggi.

"Kami juga menyiagakan personel BPBD Kabupaten Cilacap untuk memantau tanggul-tanggul penahan gelombang yang rawan jebol, salah satunya di Kelurahan Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan," katanya.

Menurut dia, tanggul penahan gelombang di Kelurahan Tegalkamulyan belum dibangun secara permanen menggunakan beton sehingga rawan jebol ketika terjadi gelombang tinggi.

Selain itu, kata dia, tanggul penahan gelombang di Pantai Widarapayung, Kecamatan Binangun, dan Pantai Bunton, Kecamatan Adipala, juga rawan jebol ketika terjadi gelombang tinggi.

Disinggung mengenai keberadaan warung-warung di sejumlah pantai, Tri Komara mengatakan saat ini lokasinya sudah jauh dari bibir pantai.
Baca juga: BMKG: wilayah perairan selatan Jateng-DIY memasuki musim angin timuran

"Sudah diupayakan untuk digeser menjauh dari bibir pantai agar tidak terdampak gelombang tinggi," katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan pihaknya juga selalu mengingatkan nelayan Kabupaten Cilacap untuk tidak melaut ketika terjadi gelombang tinggi.

"Alhamdulillah nelayan sudah paham dengan kondisi itu sehingga mereka tidak berani melaut ketika terjadi gelombang tinggi," katanya.

Seperti diwartakan, BMKG Stasiun Meteorologi Cilacap pada hari Rabu (4/9) mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi di perairan selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta maupun Samudra Hindia selatan Jateng-DIY yang berlaku hingga hari Kamis (5/9), pukul 07.00 WIB.

Pengamat cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Cilacap Rendi Krisnawan mengatakan peringatan dini gelombang tinggi tersebut dikeluarkan karena saat ini di perairan utara Filipina terdapat tropical storm Lingling yang mencapai 985 hPa, sedangkan pola angin di wilayah selatan ekuator umumnya dari timur-tenggara dengan kecepatan 4-25 knot.

"Kondisi tersebut berdampak terhadap peningkatan tinggi gelombang di wilayah perairan selatan Jateng-DY maupun Samudra Hindia selatan Jateng DIY yang berpeluang mencapai 4-6 meter," katanya.

Ia mengimbau masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi dimohon untuk tetap selalu waspada terhadap dampak gelombang tinggi tersebut.

"Apalagi pada hari ini (4/9) ada pasang maksimum yang diprakirakan mencapai 1,8 meter pada pukul 11.00 WIB hingga 12.00 WIB dan dini hari nanti, pukul 00.00 WIB, yang diprakirakan mencapai 2 meter," katanya.

Dalam hal ini, kata dia, ketika berlangsung pasang maksimum, tinggi gelombang yang terjadi di wilayah perairan khususnya daerah pantai berpotensi lebih tinggi dari kondisi saat surut sehingga warga pesisir yang daerahnya rawan rob diimbau untuk lebih waspada.
Baca juga: Waspadai gelombang tinggi perairan selatan Jateng-DIY
Pewarta : Sumarwoto
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019