Operasi pembasahan gambut Sumsel rawan terbakar ditingkatkan BRG

Operasi pembasahan gambut Sumsel rawan terbakar ditingkatkan BRG

Tim Manggala Agni memadamkan kebakaran lahan gambut di Desa Pulau Semembu, Indralaya Utara, Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Senin (5/8/2019). BPBD Sumsel mencatat per awal Agustus, Ogan Ilir menjadi kabupaten dengan wilayah kebakaran lahan terluas yaitu seluas 121,5 hektare dari enam wilayah rawan kebakaran lahan dan hutan di Sumsel. ANTARA FOTO/Ahmad Rizki Prabu/Adm/wpa. (ANTARA FOTO/AHMAD RIZKI PRABU)

Palembang (ANTARA) - Badan Restorasi Gambut (BRG) berupaya meningkatkan Operasi Pembasahan Gambut Rawan Kekeringan (OPGRK) di Provinsi Sumatera Selatan untuk mencegah terjadinya kerusakan dan kebakaran lahan gambut pada musim kemarau ekstrem 2019 ini.

"Sepanjang musim kemarau 2019 ini kami berupaya melakukan Operasi Pembasahan Gambut Rawan Kekeringan (OPGRK) di Sumatera Selatan untuk mencegah kebakaran lahan yang dapat mengakibatkan kabut asap," kata dinamisator BRG Sumatera Selatan, D.D.Shineba di Palembang, Sabtu.

Selain Sumsel, kata dia, BRG juga melakukan OPGRK di enam provinsi lainnya yakni Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua.

"Khusus di Sumsel, kegiatan OPGRK dilakukan di wilayah sasaran restorasi gambut berdasarkan peta indikatif restorasi wilayah terbangun infrastruktur pembasahan gambut di tiga daerah, meliputi Kabupaten Ogan Komering Ilir, Banyuasin, dan Musi Banyuasin," ujarnya.

Pelaksana kegiatan operasi tersebut, katanya, dilakukan oleh tim teknis yang dibentuk BRG bekerja sama dengan kelompok masyarakat di desa yang terpantau lahan gambutnya mengalami kekeringan.

Desa yang menjadi sasaran operasi, kata dia, ditentukan berdasarkan kriteria tidak mengalami hujan tujuh hari berturut-turut dan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berpotensi rawan terbakar, serta tinggi muka air di atas 0,4 meter dari permukaan gambut berdasarkan alat pemantau tinggi muka air tanah gambut.

Selain itu, menurut dia, terdapat indikasi titik panas (hotspot) berdasarkan laporan lembaga resmi pemantau dan pelapor titik panas, seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, BMKG, serta Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional.

Melalui kegiatan pembasahan tersebut, katanya, diharapkan kebakaran lahan gambut dapat diminimalkan pada musim kemarau tahun ini dan bisa dicegah bencana kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.

Sebelumnya, Deputi Bidang Edukasi Sosialisasi Partisipasi dan Kemitraan BRG Myrna Safitri menjelaskan pihaknya berupaya mengoptimalkan tiga cara restorasi lahan gambut di Sumatera Selatan dan enam daerah fokus restorasi lainnya yang mengalami kerusakan akibat faktor alam dan terbakar saat musim kemarau.

Kegiatan restorasi tersebut pertama dengan membasahi kembali lahan gambut yang rusak dan kering dengan menyekat parit atau kanal, membangun sumur bor, dan penimbunan.

Kedua melakukan kegiatan penanaman kembali khususnya di areal bekas terbakar dengan jenis tanaman yang cocok di lahan gambut.

Cara ketiga, mengoptimalkan kegiatan untuk revitalisasi kehidupan masyarakat yang bertujuan memberikan insentif kepada masyarakat yang sudah mau merawat sekat kanal dan sumur bor di lahan gambut.

BRG yang dibentuk sejak 6 Januari 2016, katanya, ditugaskan pemerintah melakukan koordinasi dan memfasilitasi kegiatan restorasi gambut yang ada di tujuh provinsi di Indonesia yakni Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua.

Provinsi Sumsel masuk salah satu di antara tujuh provinsi penting dalam upaya untuk penyelamatan lahan gambut karena terdapat 650 ribu hektare lahan gambut rusak.

Baca juga: BRG operasi pembasahan gambut rawan kekeringan

Baca juga: Sekolah lapang atasi kebakaran lahan gambut digelar BRG di Sumsel

Baca juga: BRG: Sekat kanal berbasis karet alam efektif jaga gambut tetap basah
Pewarta : Yudi Abdullah
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019