Melihat Cenderawasih di Bird Watching Isyo Hills Jayapura

Melihat Cenderawasih di Bird Watching Isyo Hills Jayapura

Seekor burung cendrawasih kecil (Paradissaea minor) bertengger diatas dahan di lokasi burung Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Bogor, Jabar. Burung pemakan buah-buahan dan serangga ini dilindungi undang-undang untuk mempertahankan populasinya. FOTO ANTARA/Jafkhairi/Koz/am.

Jakarta (ANTARA News) - Di Kabupaten Jayapura, Papua, ada satu tempat pengamatan burung yang terkenal hingga seluruh dunia yaitu Bird Watching Isyo Hills.
Berjarak sekitar satu jam berkendara dari Bandara Sentani, Bird Watching Isyo Hills ada di kampung Rephang Muaif Distrik Nimbokrang.
Isyo Hills dibangun oleh Alex Waisimon untuk tempat pengamatan burung, terutama burung ikon Papua yaitu burung Cenderawasih.
Alex merangkul masyarakat adat setempat untuk boleh mengelola hutan adat yang berada di antara Kampung Rephang dan Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, sejak 2015.
Alex sebelumnya bekerja sebagai pemandu wisata dan kerja di organisasi non pemerintah dan tinggal di Bali. Suatu hari dia terinspirasi dengan banyaknya minat orang untuk melihat burung Cenderawasih dari jarak dekat. Alex memutuskan kembali ke kampung halaman untuk mengembangkan wisata pengamatan burung.
Berhari-hari Alex mempelajari kebiasaan mahluk hidup yang ada di hutan itu, terutama Cenderawasih.
Alex lantas mengembangkan Ekowisata Bird Watching Isyo Hills.Alex mendatangi habitat Cenderawasih yang berada di kawasan hutan seluas 100 hektare tersebut. Ia mengamati pola makan dan kebiasaan Cenderawasih dari pagi hingga sore.
Menurut Alex terdapat sekitar 30 jenis Cenderawasih di Indonesia, 28 jenis di antaranya dapat ditemukan di Papua. Dan delapan macam spesies burung cenderawasih yang berhasil diidentifikasi di tempat ini, empat di antaranya bisa dilihat langsung di Isyo Hills.
Sebagai ganjaran atas keberhasilannya menjaga lingkungan hutan Rephang Muaif dan pelestarian burung Cenderawasih, pada 2017 Alex mendapat piala Kalpataru. Tahun berikutnya dia meraih Juara Satu Anugerah Pesona Indonesia Kategori Ekowisata Terpopuler.
Untuk meningkatkan Ekowisata Bird Watching, Alex melengkapi berbagai fasilitas yang bisa dipakai oleh tamu yang datang dan ingin melihat burung Cenderawasih secara langsung. Misalnya, dengan membangun tower pengamatan.
Bird Watching Isyo Hills dilengkapi dengan penginapan yang cukup baik. Alex dan kawan-kawan selain menyiapkan tempat penginapan termasuk makan dan minum.
Para wisatawan yang ingin melihat cenderawasih harus menginap di tempat itu karena "burung surga" itu hanya bisa dilihat di pagi hari atau kalau cuaca bagus dilihat sore hari. Waktu bertengger cenderawasih di sore hari lebih pendek.
Ada beberapa pos pengamatan yang dibuat oleh Alex Wosimon. Setiap pos pengamatan berbeda pula jenis cenderawasih yang bertengger. Untuk bisa sampai ke semua pos, maka pengunjung harus berangkat jam 04.30 pagi.
Untuk mencapai pos 1, memerlukan waktu 20 menit jalan kaki dengan sedikit mengendap-endap. Di Pos 1, pengunjung sudah bisa melihat burung cenderawasih. Tak lebih berjalan sekitar 1 kilometer perjalanan kita sampai pada pos pengamatan II. Di pos II ada gardu pandang setinggi sekitar 20 meter.
Dari gardu pandang ini, pengunjung bisa melihat burung cenderawasih jenis Cenderawasih 12 Antena atau bahasa setempat di sebut Cenderawasih Mati Kawat.
Burung ini mulai bertengger sekitar pukul 05.30 di batang pohon mati yang hanya sekitar 20 meter dari gardu pandang. Cenderawasih ini unik ; ekornya berupa bulu serupa kawat hitam. Jumlahnya 12 helai. Warna hitam kebiruan dan dadanya berbulu kuning.
Beberapa menit saja kita bisa melihat Cenderawasih Mati Kawat karena jika terlalu lama, kia akan kehilangan momen di pos yang lain.
Di Pos pengamatan III yang jaraknya kurang lebih 1 km, Kita akan bisa melihat burung Cenderawasih Paruh Sabit, yang paruhnya melengkung mengingatkan orang pada bentuk sabit.
Di pos IV tidak ada gardu pandang tapi pengunjung bisa mengamati burung cenderawasih di bawah pohon besar. Di tempat ini kita bisa melihat jenis burung Cenderawasih Apoda (Ekor Emas). Corak Cenderawasih Apoda ini biasa kita lihat karena bulunya dipakai sebagai hiasan kepala (sekarang dilarang).
Ternyata, burung-burung Cenderawasih punya siklus jam main. Di pos pos yang ditandai oleh Alex itu burung-burung hanya bermain tak lebih dari 30 menit, setelah itu mereka berpindah tempat dan lokasi. Sorenya, mereka baru kembali ke lokasi-lokasi ini sebelum akhirnya beristirahat. (ADV)
Pewarta : PR Wire
Editor: PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 2019