Siswa ngadu ke Inspektorat Banten karena gagal diterima di SMAN

Siswa ngadu ke Inspektorat Banten karena gagal diterima di SMAN

Sejumlah calon siswa SMAN asal Tangerang mendatangi inspektorat Banten karena gagal diterima di SMAN 24 Tangerang (Mulyana)

Serang (ANTARA) - Sejumlah calon siswa yang dinyatakan gagal masuk di SMAN 24 Tangerang mengadukan nasibnya ke Inspektorat Banten karena belum bisa melanjutkan sekolah dengan alasan tidak bisa masuk sekolah negeri yang terdekat dengan tempat tinggalnya.

Mereka didampingi para orang tuanya mendatangi bagian pengaduan inspektorat Banten di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) di Serang, Senin.

Para siswa tersebut mengaku selama ini ia belum bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA karena tidak diterima di sekolah negeri yang dekat dengan tempat tinggalnya. Sementara jika melanjutkan ke sekolah swasta terbentur dengan kemampuan ekonomi keluarga.

"Selama ini saya diem aja di rumah gak sekolah. Sebab kalau masuk sekolah swasta keluarga saya gak mampu. Apalagi bapak saya saat ini sedang dirawat di rumah sakit," kata Sisca Destriana Fitri yang merupakan siswi lulusan dari SMP 1 Pasar Kemis Kabupaten Tangerang.

Ia mengaku mendatangi kantor inspektorat Banten untuk meminta kepastian dan mengadukan persoalan tersebut karena ia tetap berupaya agar bisa masuk ke sekolah SMAN 24 karena lokasi sekolah tersebut jaraknya hanya sekitar 1,5 kilometer.

Senada diungkapkan oleh Muhamad Dzikri Firmansyah yang juga sama sebelumnya mendaftar di SMAN 24 Tangerang tetapi gagal diterima. Siswa lulusan SMP 3 Pasar Kemis Kabupaten Tangerang ini mengaku sudah lebih dari satu bulan tidak bersekolah, yakni semenjak efektif mulai jadwal masuk sekolah pertengahan Juli lalu.

"Kecewa. Sedih juga, lihat teman-teman sudah pakai seragam SMA, berangkat pagi ke sekolah, pulang selepas dzuhur. Kalau saya hanya di rumah saja, mau melanjutkan ke swasta bayarnya mahal. Sedangkan orang tua saya hanya buruh biasa," kata Dzikri.

Salah seorang wali murid yang anaknya gagal masuk SMAN 24 Tangerang, Meri Adha ditemui usai melaporkan ke tim aduan Inspektorat Banten mengatakan, ada sebanyak 14 siswa siswi dari lulusan berbagai sekolah SMP terkena dampak dari sistem zonasi yang diterapkan oleh pemerintah pada saat penerimaan peserta didik baru (PPDB) online tahun ajaran 2019/2020 yang mengadukan ke inspektorat Banten.

"Memang di SMAN 24 Tangerang ini pada saat pendaftaran resmi ada 1.039 calon siswa yang mendaftar. Setelah diverifikasi yang dinyatakan lolos hanya 396 siswa," katanya.

Namun pada saat daftar ulang dan sebagian ada yang cabut berkas, dan ada di antara orang tua siswa yang membuat kesepakatan dengan pihak sekolah dan komite serta Dinas Pendidikan Banten akan ada tambahan rombongan belajar dengan jumlah 90 orang calon siswa yang akan diterima. Namun pada kenyataannya dari kesepakatan tersebut jumlah yang diterima tidak sampai 90 orang dan sebagian sudah menarik berkas pendaftaran untuk dimasukkan ke sekolah lain.

"Pada saat proses daftar ulang, dari tanggal 22 Juni sampai 12 Juli, kami yang 90 orang ini dijanjikan akan dimasukkan ke sekolah itu. Jadi dijanjikan akan dibuatkan dua rombel. Dan itu telah disepakati di atas materai," kata dia.

Namun pada prosesnya pada tanggal 15 Juli lalu, dimana siswa sekolah memulai kegiatan belajar mengajarnya dari puluhan siswa yang telah disepakati untuk penambahan rombel, para siswa yang berkasnya sudah diserahkan kembali tidak bisa masuk, dengan alasan harus nunggu rekomendasi inspektorat.

"Makanya kami datang ke sini ke inspektorat Banten untuk meminta kepastian supaya anak saya bisa sekolah di SMAN 24 Tangerang," kata Meri Adha didampingi salah seorang anggota Komite SMAN 24 Tangerang, Fakhrudin.***3***
Pewarta : Mulyana
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019