Koki Rifani, mantan pembantu dapur yang sukses di blok gas Ruby

Koki Rifani, mantan pembantu dapur yang sukses di blok gas Ruby

Chef Rifani di balik dapurnya saat menyajikan makanan untuk pekerja di Anjungan Lepas Pantai Ruby. (antara/foto/firman)

Sebuku (ANTARA) - Sebuah pekerjaan yang hebat tidaklah bisa didapat tanpa perjuangan. Butuh kerja keras untuk bisa menggapainya. Begitu juga seorang juru masak (chef) atau kerap disebut koki yang merupakan ahli seni boga.

Seperti yang dilakoni pemuda bernama Rifani. Kini dia menjadi seorang koki di Ruby Gas Field, sebuah fasilitas produksi gas di Selat Makassar milik Mubadala Petroleum, perusahaan migas internasional dari negara Uni Emirat Arab.

Namun siapa sangka, karirnya dulu hanya diawali dari seorang helper (pembantu) dapur yang bertugas membantu juru masak memotong sayuran, mengiris bawang, membersihkan bahan makanan hingga cuci piring dan bersih-bersih area dapur layaknya tenaga "cleaning service".

Alumni SMAN 6 Balikpapan yang lulus tahun 2003 ini mengawali karirnya di dunia dapur sejak 2006. Dia bekerja sebagai helper di lokasi produksi migas milik Total E&P Indonesie (TEPI) pada Northern Processing Unit/NPU) Tunu, di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Sebelum bergabung di Ruby, pria berkaca mata ini terakhir jadi koki di offshore (lepas pantai) perusahaan migas milik Chevron di Bontang.

Pengalaman panjangnya bekerja di lokasi lepas pantai, menjadikan Chef Rifani terbilang matang menghadapi situasi pekerjaan di tengah laut.

"Kebetulan kesempatan rezekinya banyak bekerja di lokasi offshore ketimbang di onshore (di darat). Jadi saya sudah menikmati pekerjaan ini," tutur pria kelahiran Balikpapan 26 April 1986.
 
Chef Rifani memberikan makanan untuk pekerja di Anjungan Lepas Pantai Ruby. (antara/foto/firman)


Fani, begitu biasa dia dipanggil, tergabung dalam PT Indocater, perusahaan yang bergerak di bidang catering terkemuka di Indonesia. Di Ruby dia tercatat karyawan outsourcing, sehingga profesionalitasnya sebagai koki tak perlu diragukan lagi.

Meski hanya mendapat keahlian mengolah masakan dengan belajar sendiri alias autodidak, Fani telah membuktikan jika dia mampu diandalkan untuk menyediakan berbagai resep bagi kebutuhan pekerja di anjungan lepas pantai Ruby.

Bekerja di dapur Ruby sejak 2016, pria berkulit putih ini telah banyak mengalami suka duka di dalamnya.

Dia merasa bahagia ketika masakan olahannya disukai. Sebaliknya, perasaan "tidak enak" seketika menghampiri kala ada keluhan dari orang yang menyantap makanan yang disajikan.

"Karena kita harus melayani banyak orang, maka pasti ada saja yang tidak cocok rasanya dan sebagainya. Namun itulah risikonya. Tinggal bagaimana kita bisa memasak satu makanan yang harapannya disukai selera secara umum. Kecuali ada permintaan khusus dari orang per orang mau dibikin seperti apa, bisa juga kita buat sesuai seleranya," kata Fani.
Chef Rifani bersama supervisor dan Agung Djatmiko selaku Offshore Installation Manager Ruby Platform, Mubadala Petroleum. (antara/foto/firman)


Di Ruby gas field yang merupakan wilayah kerja Blok Sebuku, Selat Makassar, di antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi, ada sekitar 30 pekerja yang harus dijamin Fani kebutuhan makanannya tiga kali sehari.

Selain aneka masakan nusantara yang harus dikuasainya, lajang 33 tahun yang masih berdarah Banjar (Kalimantan Selatan) dari sang ibu ini juga mahir membuat beberapa jenis masakan barat atau Western. Hal itu untuk menyikapi jika ada kunjungan dari warga negara asing yang datang ke Ruby.

"Ada planing menu yang kita ikuti untuk stok makanan per bulan. Dalam setiap mengolah masakan, kita diawasi langsung oleh supervisor dan juga tim medik yang datang ke dapur mengecek semua bahan aman dan terjamin kebersihannya," pungkas Fani yang berharap bisa terus menambah ilmu dan pengalamannya di dunia memasak agar menjadi koki handal yang tanpa berhenti belajar.
Baca juga: Komunitas koki sajikan olahan spesial di dapur kurban ACT Sumsel
Baca juga: Kata chef Michelin Star tentang masakan Indonesia
Pewarta : Firman
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2019