M. Toha, anak yang melukis penangkapan Sukarno-Hatta di Yogya 1948

M. Toha, anak yang melukis penangkapan Sukarno-Hatta di Yogya 1948

Lukisan M. Toha yang menjadi poster pameran Art and Diplomacy di Galeri Foto Jurnalistik Antara. ANTARA/Dok. GFJA/am

Jakarta (ANTARA) - M. Toha merupakan pelukis cilik yang merekam peristiwa penangkapan Presiden RI pertama Sukarno dan Wakil Presiden RI pertama M. Hatta serta pemimpin lainnya pada 1948 di Yogyakarta saat Agresi Militer Belanda II.

Kala itu ibu kota Indonesia sudah berpindah ke Yogyakarta pada 1946 karena kondisi Jakarta sudah tidak aman. "M. Toha yang saat itu masih berusia 11 tahun melukis di tempat saat Sukarno dan Hatta dibawa oleh pasukan Belanda dengan mobil Jeep," kata Kepala Divisi Museum dan Galeri Jurnalistik Foto Antara Oscar Matuloh saat ditemui di Jakarta, Kamis.

Pria yang juga menjadi kurator pameran Art and Diplomacy untuk menyambut HUT RI ke-74 itu mengatakan lukisan M. Toha Adimijojo itu tak hanya merekam kejadian diangkutnya para tokoh-tokoh tersebut, tetapi M. Toha juga menggambarkan peristiwa itu dan di dokumentasikan oleh fotografer.

Terlihat ada satu gambar seorang fotografer berada di sebelah kiri bawah lukisan yang sedang memotret iring-iringan jeep tesebut.

Lukisan M. Toha itu kini juga dipertunjukan dalam pameran Art & Diplomacy yang digelar di tiga tempat yaitu di Perpustakaan Nasional pada 15 Agustus, Galeri Foto Jurnalistik Antara pada 16 Agustus dan Museum Bronbeek di Belanda pasa 17 Agustus.

Baca juga: Kemendikbud, GFJA dan Perpusnas gelar pameran Art and Diplomacy

Baca juga: Kegiatan solidaritas "Lombok Palu Donggala Rev!val" resmi ditutup


Lukisan yang dipamerkan merupakan reproduksi dari lukisan aslinya yang telah menjadi koleksi dari Rijksmuseum, Belanda. Tak hanya dipamerkan lukisan tersebut juga menjadi sampul depan dari buku Art and Diplomacy.

Dia mengatakan seni rupa merupakan sisi lain dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selama ini masyarakat hanya mengenal perjuangan lewat militer saja, namun sebenarnya seniman, politikus, dan pihak lain juga giat untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Direktur Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Triana Wulandari mengatakan perjuangan Indonesia tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang mengangkat senjata saja, tetapi pihak-pihak lain termasuk seniman.

"Seni rupa hadir untuk menggambarkan kondisi saat itu. Melalui lukisan, kita bisa menambah historiografi dan menambah gairah sejarawan dalam mengungkap perjalanan bangsa," kata dia.*

Baca juga: Pewarta foto luncurkan buku foto "Lombok Palu Donggala Rev!val"

Baca juga: Artefak Proklamasi dipamerkan di GFJA
Pewarta : Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019