Berkah kurban bagi korban kebakaran Manggarai

Berkah kurban bagi korban kebakaran Manggarai

Warga Jalan Swadaya I, RW07 Manggarai, memotong hewan kurban sapi di Pelataran Masjid Al Falaah, Minggu (11/8/2019). Warga dari kalangan korban kebakaran menerima total 11 ekor sapi dan 23 ekor kambing. (ANTARA/Andi Firdaus)

Jakarya (ANTARA) -
Minggu (11/8/2019) pagi, Agus Kuswara (51) berdiri tegap di hadapan ratusan warga Kampung Asrama 7 Manggarai. Tangan kanannya menggenggam kuat sebilah golok tajam yang terbungkus sarung kayu hitam.
 
"Untuk warga RW07, wabil khusus untuk warga korban kebakaran. Dengan ini mari kita laksanakan dengan sepenuh hati dan ikhlas," instruksi itu disampaikan Agus kepada warga menggunakan pengeras suara Masjid Al Falaah menjelang pemotongan hewan kurban.
 
Pekikan kalimat 'Allahu Akbar' bergemuruh di pelataran masjid. Kaum bapak berkerumun di barisan potong hewan, kaum ibu dan remaja bergegas menyiapkan kopi dan kue dari rumah masing-masing. Sementara anak-anak saling berebut kayu pemukul beduk di tengah lantunan takbir, tanda dimulainya penyembelihan.
 
Untuk kali pertama, warga Kampung Asrama 7, Jalan Swadaya 1, Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan menerima kiriman hewan kurban dengan jumlah terbanyak sepanjang sejarah perayaan Idul Adha. Masyarakat perkampungan padat penduduk di sisi selatan Jakarta itu sampai kewalahan menangani penyembelihan hewan kurban.
 
Sebanyak 11 ekor sapi berikut 23 ekor domba datang sebagai berkah atas musibah kebakaran yang memaksa 788 jiwa mengungsi dan 169 rumah luluh lantak dengan tanah, tepat sebulan lalu.
 
Kalangan pejabat hingga politisi ambil bagian dalam donasi sapi. Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Hidayat Nur Wahid, beserta istri menyumbang dua ekor sapi. Wali Kota Jakarta Selatan, Marullah Matali beserta sejumlah wakil rakyat di DPRD DKI Jakarta turut menyumbangkan sapi.
 
Hewan kurban jenis kambing dan domba datang dari berbagai penjuru kawasan di Jakarta, Jawa Barat, hingga Banten dari para dermawan yang bersimpati atas musibah kebakaran.
 
Hampir sebulan lamanya, penduduk Kampung Asrama 7 dirundung duka. Jilatan api yang meluluhlantakan rumah, terekam jelas diingatan Agus sampai sekarang. Hanya butuh setengah jam, si jago merah merenggut seisi rumah Agus di RT12 RW07 Manggarai.
 
Tepat pukul 10.00 WIB, seluruh aktivitas warga lumpuh saat terjadi listrik padam, mesin pompa air tanah pun rusak. "Dari delapan RT, hanya RT07 dan RT08 yang tidak kena api. Enam RT lainnya habis semua," ungkap Agus.
 
Api menjalar mengikuti embusan angin, membakar setiap material bangunan berbahan kayu maupun tripleks semipermanen yang dilintasi. Tidak kurang dari 788 warga kehilangan tempat tinggal berikut barang berharga.
 
Mereka diungsikan menuju tiga lokasi aman, di antaranya pelataran Masjid Al Falaah, Lapangan Merah RW08 serta Masjid Darul Munir RW09.
 
Puluhan petugas pemadam kebakaran dikerahkan memadamkan api yang bersumber dari salah satu rumah penjual gorengan pisang cokelat (piscok) di RT10 RW07. Polisi telah memastikan insiden kebakaran dipicu korsleting arus listrik.
 
Butuh waktu lima jam petugas pemadam menjinakkan api. Jalan setapak di gang sempit, membuat petugas sulit menjangkau titik kobaran api menggunakan kendaraan. Proses pemadaman terpaksa dilakukan dari balik dinding pergudangan milik PT Invinia Park yang berjarak selemparan batu dari titik kobar api.
 
Awalnya pesimistis
 
Pengurus Yayasan Masjid dan Perguruan Al Falaah, Agus Komara (55), sempat putus asa perayaan Idul Adha bisa digelar tahun ini. Alasannya, sebagian besar dari 15-an orang pengurus yayasan terdampak kebakaran.
 
"Sebelumnya secara kepanitiaan mau dibatalkan acara Idul Adha karena mayoritas pengurus yayasan menjadi korban kebakaran, mereka lebih memikirkan tentang pemulihan rumahnya," ujarnya.
 
Pria yang juga menjadi tokoh masyarakat RW07 itu menjadi salah satu pengambil keputusan untuk membatalkan perayaan Idul Adha dalam rapat musyawarah anggota yayasan beberapa hari menjelang Idul Adha.
 
Pertimbangan lain dari rencana pembatalan karena area potong hewan kurban di pelataran masjid Al Falaah telah berdiri tenda pengungsian korban kebakaran yang diperkiraan berdiri selama sebulan, tapi nyatanya hanya dua pekan.
 
Keadaan berkata lain. Musibah kebakaran nyatanya membawa dampak positif terhadap jumlah hewan kurban yang terkumpul dari berbagai kalangan yang peduli.
 
Humas Karang Taruna RW07 Manggarai, Wahyu Hidayat menyebut jumlah hewan kurban kali ini terkumpul hingga dua kali lipat dari biasanya. Bahkan warga juga sangat antusias untuk merayakan.
 
Hewan kurban yang melimpah di perkampungan padat penduduk itu rupanya menjadi pertimbangan berbagai pengurus lingkungan untuk membentuk panitia kebersamaan dengan seluruh warga.
 
"Keputusan untuk menggelar Idul Adha sebenarnya dilakukan secara mendadak kemarin, Sabtu (10/8). Akhirnya tokoh masyarakat bersama Karang Taruna perangkat RT/RW beserta yayasan mengerahkan seluruh warga untuk menjadi panitia," tuturnya.
 
Mekanisme kepanitiaan diambil minimal dari 10 perwakilan warga di setiap RT untuk ikut serta memotong dan mendistribusikan daging kurban.
 
Hewan sapi dipotong di pelataran masjid Al Falaah dan hewan kambing dipotong di taman salah satu rumah warga yang bersebelahan dengan Pos RT04 RW07.
 
Tidak kurang 550 kantong berisi 2-3 kilogram daging didistribusikan kepada mustahik. Namun, prioritas diberikan kepada para korban kebakaran.
 
Bingung
 
Korban kebakaran penerima daging kurban harus berbagi kompor gas milik tetangga untuk memasak daging hasil pemotongan hewan kurban.
 
"Ya begini ini (pinjam peralatan masak). Barang saya semuanya ludes. Sekalinya dapet daging bingung masaknya gimana," kata Agus Komara.
 
Agus memperoleh tidak kurang dari dua kilogram daging sapi yang dibungkus kantong kresek plastik hitam. Daging tersebut tergeletak di sisi kompor gas ukuran satu tungku hasil sumbangan dari salah satu partai politik. Di samping kompor terdapat satu tabung elpiji 3 kilogram yang dipinjam Agus dari tetangganya.
 
"Nanti kalau saya selesai masak, baru gantian. Tetangga saya pinjam kompornya," imbuh Agus.
 
Peristiwa kebakaran yang terjadi Rabu (11/7) siang hanya menyisakan kasur dan beberapa surat penting di rumah Agus berukuran 2x9 meter per segi. Pada bangunan setengah gosong beratapkan terpal biru di RT 12 RW 07, Agus tinggal bersama tiga anak dan seorang istri.
 
Berkah daging kurban juga membawa masalah bagi tetangga Agus, Sumarni (52) yang mengaku kesulitan memperoleh akses air bersih karena mesin pompa menyedot air tanah korsleting listrik akibat terbakar.
 
Warga yang terdampak kebakaran di enam RT Jalan Swadaya I, RW 07 Manggarai, mayoritas memanfaatkan kebocoran air dari pecahan pipa distribusi bawah tanah milik PDAM Palyja.
 
"Saya cuci dagingnya pakai air PDAM. Pipanya kan pecah pas kemarin kebakaran, saya pasang selang untuk cuci daging sama masak air," tambahnya.
 
Sumarni harus mengantre air bersama tetangganya yang lain demi memperoleh akses air bersih.
 
Warga lainnya di RT 10 RW 07, Ardi Gumilang (33) kebingungan untuk menyimpan daging kambing karena kulkas di rumahnya rusak terbakar.
 
"Rencananya mau saya titip ke rumah saudara di RW sebelah, atau nanti malam saya sama teman-teman mau nyate bareng. Soalnya gak mungkin ditunda sampai besok," katanya.
 
Pemulihan
 
Sekitar 30 persen bangunan tempat tinggal di Jalan Swadaya I, RW07, mulai mengalami pemugaran berkat donasi yang dihimpun dari berbagai kalangan dalam sebulan terakhir. "Dananya ada yang dari bantuan berbagai pihak, ada pula yang dikumpulkan swadaya dari hasil usaha atau tabungan," kata warga RT04 RW07, Dedi Suprapto.

Pria yang sudah sebulan terakhir bekerja di salah satu perusahaan swasta di Kota Bekasi, Jawa Barat, itu berupaya mencari uang untuk memugar rumahnya yang kini hanya menyisakan puing. Saat ini Dedi membutuhkan dana tidak kurang Rp30 juta untuk memulihkan kondisi rumahnya.
 
Beruntung bantuan datang dari berbagai pihak. Salah satunya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang memberikan bantuan langsung tunai total Rp1 juta ke setiap korban. Selain itu bantuan juga datang dari berbagai kalangan dalam bentuk material bahan baku berjumlah empat sak semen, empat sak pasir, 50 unit Habel, dua lembar terpal 2x6 meter.
 
"Saya juga pakai gaji untuk beli materi tambahan," ucapnya.
 
Dedi menyebut kerugian dirinya atas peristiwa kebakaran mencapai total puluhan juta rupiah. Motor dan seluruh perabotan rumahnya habis terbakar. Cuma sisa surat-surat penting saja yang berhasil diselamatkan.
 
Upaya memulihkan kembali bangunan rumah juga dilakukan sejumlah korban dengan membuka warung dagang 'dadakan' di sekitar Jalan Swadaya 1. Tidak kurang dari belasan warung berdiri di atas bongkahan bangunan yang hangus terbakar.
 
"Saya jualan minuman dingin sama kopi. Ada juga mi dan makanan ringan. Lumayan (pendapatan) sehari buat nambah-nambah pasir," kata salah satu warga.
 
Kebersamaan warga di Kampung Asrama 7 telah memberi bukti bahwa kesamaan nasib sebagai korban bencana, justru berbuah berkah untuk bersama-sama menyelesaikan masalah dengan semangat gotong royong dan keguyuban.
Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2019