Medan (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memperkuat mitigasi terhadap enam daerah yang dinilai rawan bencana.

"Langkah ini kami lakukan untuk mengurangi risiko, dampak, dan potensi korban jiwa di wilayah Sumut," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Sumut Manutur P Naibaho di Medan, Sumatera Utara, Sabtu.

Keenam daerah menjadi sasaran mitigasi itu, lanjut dia, yakni Kabupaten Deli Serdang, Kota Tanjung Balai, Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kabupaten Mandailing Natal.

Dari enam kabupaten/kota di Sumatera Utara itu, di antaranya kegiatan mitigasi bencana telah digelar di Kota Tanjung Balai, dan Kabupaten Tapanuli Tengah.

"Kami latih dan mengajari mereka membuat jalur evakuasi. Tujuannya untuk edukasi masyarakat agar mampu evakuasi mandiri, mengenalkan bencana, dan menyiapkan diri ke lokasi mana dievakuasi," ucap Manutur.

Adapun kegiatan mitigasi yang dilakukan meliputi pemetaan wilayah dengan membuat peta kawasan rawan bencana, seperti banjir, longsor, dan gempa bumi berdasarkan kondisi geografis.

Selain itu, pihaknya juga melakukan sosialisasi dan edukasi melalui penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di daerah rawan bencana.

"Kami memberikan simulasi dan pelatihan berupa latihan evakuasi mandiri, uji coba alat peringatan dini, dan mendorong penyusunan tata ruang yang peka terhadap risiko bencana," papar Manutur.

Kepala BPBD Provinsi Sumut Tuahta Ramajaya Saragih menyampaikan, wilayah Sumatera Utara mengalami sebanyak 14 jenis kejadian bencana alam.

Di antaranya cuaca ekstrem, banjir, kebakaran hutan, gempa bumi, letusan gunung api, tanah longsor, tsunami, kekeringan, banjir bandang, angin puting beliung, dan gelombang pasang.

Data BPBD Provinsi Sumut periode 1 Januari hingga 4 September 2026, tercatat, cuaca ekstrem menjadi bencana paling sering terjadi dengan 127 kejadian, tanah longsor 86 kejadian, banjir 73 kejadian, dan kebakaran hutan 47 kejadian.

"Program mitigasi adalah bagaimana cara kita memitigasi dan mempersiapkan diri sebelum terjadinya bencana. BPBD memiliki tiga tahapan kerja, yakni prabencana, tanggap darurat, dan pascabencana," ujarnya.

Langkah mitigasi prabencana dilakukan secara menyeluruh mulai dari komunikasi, informasi, dan edukasi kepada para pelajar dan masyarakat hingga penyusunan berbagai dokumen strategis.

"Kami menyusun kajian risiko bencana, rencana penanggulangan bencana, serta rencana kontinjensi (renkon). Renkon kebakaran hutan dan gempa bumi sudah berjalan, saat ini kami sedang menyiapkan renkon bencana banjir," kata Tuahta.



Pewarta: Muhammad Said
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026