Medan (ANTARA) - Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menyerukan, perkuat sinergi guna mencegah konflik sosial berdimensi keagamaan di daerah.

"Kegiatan ini membahas strategi penguatan, perawatan, kerukunan umat beragama, dan pencegahan konflik sosial keagamaan," ucap Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Provinsi Sumut Syafrizal Bancin di Medan, Kamis (2/7).

Menurutnya, mengumpulkan para pemangku kebijakan utama merupakan langkah strategis mengingat Sumatera Utara merupakan wilayah sangat multietnis dan multiagama.

Apabila para tokoh agama maupun pemangku kebijakan sudah bergandengan tangan untuk membina dan mengayomi masyarakat, maka Sumatera Utara akan aman dan kondusif.

Pihaknya mengajak pemuka agama, terutama penyuluh agama aktif untuk turun ke akar rumput memastikan pesan-pesan moderasi beragama benar-benar tersampaikan oleh seluruh lapisan.

"Pada dasarnya, semua agama mengajarkan kedamaian, keharmonisan, dan kasih sayang," ujar Syafrizal.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Sumut Mulyono menekankan, pentingnya menjaga Sumatera Utara tetap aman dan rukun agar roda pembangunan tidak terhambat.

Ia memaparkan, keberagaman di Sumatera Utara juga menyimpan potensi kerawanan konflik, baik berdimensi politik, sosial-ekonomi, agraria maupun keagamaan.

"Tantangan terbesar kita hari ini adalah kemajuan teknologi, dan media sosial. Konflik yang awalnya kecil sering kali dipoles oleh pihak yang tidak bertanggungjawab hingga menjadi besar di dunia maya," ungkap Muliono.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumut M Hatta Siregar memaparkan, strategi taktis terus dijalankan pihaknya terkait demi merawat iklim toleran dan moderat di Sumatera Utara.

FKUB berkomitmen terhadap lima ikhtiar utama, yakni melakukan dialog lintas iman secara berkala, deklarasi dan imbauan damai, serta membangun kolaborasi dan sinergi antarlembaga keagamaan.

"Kemudian, penguatan program Moderasi Beragama, dan melaksanakan penyuluhan kerukunan berbasis komunitas," tutur Hatta.

Kepala Satgas Densus 88 AT Polri Kompol Albert Arisandi mengungkapkan, walau secara historis Sumatera Utara sempat menjadi salah satu titik kelompok ekstremis.

"Namun berkat kerja keras bersama, Sumatera Utara mempertahankan status zero peristiwa teror selama 3,5 tahun terakhir," katanya.

Meski demikian, Kompol Albert mengingatkan terjadi pergeseran pola gerakan kelompok radikal seiring tingginya kesadaran fisik masyarakat.

"Provokasi di media sosial kini semakin masif. Karena ruang gerak fisik makin sempit, mereka bergeser ke platform online. Ini tantangan bersama kita," jelasnya.



Pewarta: Muhammad Said
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026