Tapanuli Utara (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara terus memperkuat sektor pertanian melalui langkah strategis dengan menggandeng Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sumatera Utara. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama Skema Pengembangan Jagung Sejagat (Sejagat) yang dirangkai dengan sosialisasi kepada petani.
Skema Sejagat merupakan model pengembangan pertanian terintegrasi dari hulu hingga hilir (end-to-end system) yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari lembaga perbankan sebagai penyedia pembiayaan, Dinas Pertanian sebagai pendamping teknis, PT Jasindo untuk perlindungan risiko usaha, BPJS Ketenagakerjaan sebagai perlindungan tenaga kerja, hingga Perum Bulog sebagai off-taker yang menjamin penyerapan hasil panen petani.
Wakil Bupati Tapanuli Utara, Deni Parlindungan Lumbantoruan mengatakan program tersebut sejalan dengan visi pemerintah daerah dalam menciptakan sumber daya manusia unggul di sektor pertanian, khususnya dari kalangan generasi muda.
"Kami ingin petani milenial tidak hanya menjadi petani yang menanam, tetapi juga menjadi pebisnis pertanian yang memiliki perencanaan usaha dan analisis bisnis yang baik. Potensi pasarnya sangat besar, dan akses pembiayaannya telah difasilitasi melalui OJK bersama perbankan," ujarnya, Jumat (26/6).
Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemkab Taput juga menargetkan pembukaan 1.000 hektare lahan pertanian baru pada tahun ini dengan dukungan subsidi pemerintah.
"Ekosistem dan fasilitasnya sudah kami siapkan. Sekarang tinggal bagaimana generasi muda memanfaatkan peluang ini dan menjadi contoh bagi pemuda lainnya," imbuhnya.
Pemkab Taput menargetkan jumlah petani milenial produktif meningkat hingga lebih dari 1.000 orang pada tahun 2028.
Sementara itu, Deputi Direktur OJK Provinsi Sumatera Utara, Yovvi Sukandar, yang membacakan sambutan Kepala OJK Sumut, mengapresiasi komitmen Pemkab Taput dalam memperkuat sektor pertanian melalui perluasan akses keuangan.
Menurutnya, pembiayaan kredit sektor jagung di Sumatera Utara terus menunjukkan tren positif. Hingga April 2026, sekitar 99,79 persen penyaluran kredit sektor jagung telah dinikmati oleh pelaku UMKM dan petani.
"Melalui kerja sama ini, akses permodalan bagi petani jagung di Tapanuli Utara semakin terbuka. Kami juga mendorong keterlibatan petani milenial karena mereka lebih adaptif terhadap teknologi agribisnis sehingga mampu meningkatkan nilai tambah hasil pertanian," kata Yovvi.
Melalui implementasi Skema Sejagat, Pemkab Tapanuli Utara optimistis produktivitas pertanian dan kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) akan terus meningkat.
Ke depan, model ekosistem off-taker ini juga direncanakan diterapkan pada komoditas unggulan lainnya, seperti kopi dan tomat, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Tapanuli Utara.
Pewarta: Rinto AritonangEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.