Karo (ANTARA) - Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution melontarkan pernyataan keras kepada Pemerintah Kabupaten Karo untuk segera menuntaskan kisruh dugaan pungutan liar yang mencoreng kawasan wisata Pemandian Air Panas Doulu atau Sidebuk-debuk.

Jika tak mampu menyelesaikannya, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara siap turun tangan mengambil alih penanganan persoalan tersebut. "Kalau memang Pemkab tidak bisa menyelesaikan, biar kami yang selesaikan," semprot Bobby.

Pernyataan tegas itu disampaikan Bobby saat melepas 70 pelari elit peserta Trail of The Kings – Lake Toba by UTMB 2026 di Samosir, Sabtu (13/6), di tengah sorotan publik terhadap maraknya keluhan wisatawan terkait pungutan berulang di destinasi wisata andalan Kabupaten Karo tersebut.

Menurut dia, praktik pungutan yang dikeluhkan wisatawan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dapat merusak citra pariwisata Sumatera Utara yang saat ini tengah gencar dipromosikan melalui berbagai ajang internasional, termasuk Trail of The Kings di kawasan Danau Toba.

Bobby menegaskan, kenyamanan dan rasa aman wisatawan harus menjadi prioritas seluruh pemerintah daerah. Kehadiran wisatawan, katanya, tidak boleh disambut dengan kebingungan akibat pungutan yang tidak jelas dasar hukumnya.

Ultimatum tersebut muncul setelah viralnya video keluhan seorang wisatawan yang mengaku harus mengeluarkan biaya lebih dari satu kali saat memasuki kawasan pemandian air panas di kaki Gunung Sibayak. Video itu memicu gelombang kritik dari masyarakat karena dinilai memperkuat stigma buruk terhadap pengelolaan destinasi wisata di Kabupaten Karo.

Padahal, kawasan Doulu atau Sidebuk-debuk selama ini menjadi salah satu magnet wisata unggulan Sumatera Utara yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Sebelumnya, polemik retribusi di kawasan tersebut sempat memicu bentrokan di tengah masyarakat. Pemerintah Kabupaten Karo kemudian menghentikan sementara aktivitas pengutipan retribusi sambil mencari solusi atas konflik yang terjadi.

Bobby berharap persoalan itu segera dituntaskan agar kepercayaan wisatawan kembali pulih. Ia menekankan bahwa promosi pariwisata berskala internasional akan sia-sia apabila di lapangan wisatawan masih dibayangi praktik pungutan yang meresahkan.

"Jangan sampai kita mengundang orang datang ke Sumatera Utara, tetapi ketika tiba di destinasi justru mendapat pengalaman yang buruk. Wisatawan harus merasa nyaman, aman, dan dihargai," ujarnya. (*)

 



Pewarta: Ade Friadi
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026