Medan (ANTARA) - Perjalanan panjang penuh perjuangan harus di tempuh oleh Fajar Lailatul Mi’rojiyah, seorang guru berprestasi di MadrasahTsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Medan, Sumatera Utara.

Lailatul Mi’rojiyah menjadi salah seorang delegasi Indonesia mengikuti program internasional "Training Program for Backbone Teachers of Luban Workshop in Asia Countries" di Tiongkok selama 14 hari mulai 21 Mei 2026.

Program ini digelar Kementerian Sekretariat Negara RI, dan diikuti guru-guru terpilih dari berbagai daerah di Indonesia dalam keterangan tertulis Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Utara, Senin (1/6).

Adapun jarak tempuh harus dilalui Laila sapaan akrabnya dari Jakarta menuju ke Tiongkok total 7 jam perjalan udara, dan dilanjutkan ke Ningbo City tempatnya menimba ilmu sekitar 2,5 jam.

Tiba di Ningbo Polytechnic University pada Kamis (21/5), para peserta telah mengikuti pembukaan, pengenalan kampus, dan pelatihan Backbone Teachers of Luban Workshop.

"Saya bersama 4 pengajar lainnya tiba di Ningbo malam hari, sehingga kami dari Indonesia tidak mengikuti pembukaan secara utuh," ucap Laila.

Mr Cao Bo, perwakilan kampus di sesi pembukaan menjelaskan, visi pendidikan vokasi di Tiongkok, kerja sama internasional, serta tujuan pelatihan bagi para guru dari berbagai negara di Asia.

Para peserta memperoleh gambaran akan sistem pembelajaran berbasis praktik dan pengembangan keterampilan abad ke-21, sehingga membuka wawasan mereka akan pentingnya kolaborasi internasional di dunia pendidikan.

"Saya mulai memahami bagaimana pendidikan vokasi di Tiongkok yang dikembangkan secara modern, namun tetap berorientasi kebutuhan industri," kata Laila.

Pihaknya mengatakan, berbagai materi maupun kegiatan terus diberikan kepada para guru dari berbagai negara di Asia, seperti pemikiran dan kebijakan pembangunan Tiongkok modern. 

Kemudian, studi kasus pengembangan pendidikan vokasi di berbagai negara, kunjungan ke Museum Pendidikan Tiongkok hingga materi penilaian mutu, dan pengembangan perguruan tinggi vokasi.

"Kami melakukan kunjungan ke Zhejiang Financial College untuk mempelajari operasional pendidikan berbasis kelompok, dan industri. Tapi sebelum itu, kami sholat Idul Adha di Majid Huangzhou," jelas Laila.

Dari kegiatan ini, para peserta diajarkan memahami pendidikan masa depan yang memerlukan komunikasi global, dan kolaborasi internasional, serta adaptasi budaya. 

"Sebagai guru madrasah, saya termotivasi untuk meningkatkan kemampuan bahasa, teknologi, dan kerja sama internasional dalam pembelajaran," tutur Laila.

Begitu banyak pengalaman berharga yang tidak terlupakan oleh Laila maupun para guru berbagai negara di Asia ketika menempuh pelatihan di Tiongkok.

Transformasi masif infrastruktur dan pendidikan menegaskan komitmen kuat Tiongkok membangun peradaban modern tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga unggul secara kualitas.



Pewarta: Muhammad Said
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026