Medan (ANTARA) - Wakil Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Surya menyatakan, industri kelapa sawit di provinsi ini harus ramah terhadap lingkungan dan berpihak kepada rakyat Sumut.
"Industri sawit tidak hanya dituntut kuat secara ekonomi, tetapi juga harus bertanggungjawab terhadap lingkungan dan sosial masyarakat," tegas Surya usai membuka Socfindo Conference on Practical Application & Exhibition (Scopex) 2026 di Medan, Selasa (19/5).
Wagub menegaskan, bahwa penguatan riset, teknologi, kualitas sumber daya manusia (SDM), dan inovasi menjadi kunci utama bagi kemajuan industri kelapa sawit ke depan.
Suatu riset, lanjut dia, tidak boleh berhenti di laboratorium atau ruang diskusi, tetapi harus mampu diterapkan secara nyata di lapangan, baik perkebunan maupun pabrik kelapa sawit.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumut pada 2024, menyatakan, luas perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara sekitar 1,35 juta hektare dan total produksi mencapai 5,05 juta ton per tahun.
"Ini bisa membantu petani, meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, memperkuat daya saing, serta menjaga keberlangsungan lingkungan hidup," kata Surya.
Wagub juga mengenang masa kecilnya yang tumbuh di lingkungan perkebunan kelapa sawit di Pulau Raja, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.
Surya membandingkan, kondisi sosial di lingkungan perkebunan pada masa lampau dengan situasi saat ini yang dinilainya jauh lebih terbuka dan harmonis.
Pulau Raja, menurut Surya, merupakan lokasi pertama penanaman kelapa sawit di Sumatera Utara oleh perusahaan asal Jerman dan Belgia.
"Saya masih ingat waktu SD, kami disuruh hormati pohon kelapa sawit pertama. Bahkan, kami disuruh izin kalau lewat di depannya, ‘misi mbah’ gitu," tuturnya.
Dahulu, ungkap wagub, kasta sosial di masyarakat juga sangat kental, seperti seorang staf tidak boleh ketemu manajer, dan bila karyawan perusahaan sawit menggelar pesta, maka buruh tidak boleh lewat.
"Tetapi sekarang jauh berubah, semua semakin baik. Tidak ada batas antara masyarakat dan perusahaan, staf dengan PT. Itulah perubahan positif yang terus kita harapkan," ujar Surya.
Wagub juga berharap perusahaan-perusahaan sawit tetap mengedepankan kesejahteraan masyarakat, dan menjaga kelestarian lingkungan bersama pemerintah.
"Kita sebagai pemangku kepentingan, hal yang utama adalah kesejahteraan rakyat. Perusahaan juga punya tanggung jawab itu, bersama pemerintah menjaga lingkungan,” jelas Surya.
Ketua Panitia Scopex 2026 Indra Syahputra mengatakan, produksi kelapa sawit di Sumatera Utara mencapai dua juta ton per tahun.
Ia menyebutkan, produktivitas perusahaan kelapa sawit rata-rata mencapai 3,6 ton per hektare, sedangkan petani sekitar 2,5 ton per hektare.
"Bila kita ingin meningkatkan produksi kelapa sawit tanpa menambah lahan, kita harus menggunakan bibit yang benar, tanam di tempat yang benar, dan mengelola dengan benar," katanya.
"Oleh karena itu, kita ada di sini untuk berdiskusi dan menemukan solusi bagi tantangan perkebunan sawit saat ini," ungkap Indra.
Pewarta: Muhammad SaidEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.