Medan, Sumut (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sumatera Utara (OJK Sumut) menyatakan sektor perbankan di wilayahnya menunjukkan kondisi yang solid.
"Kinerja intermediasi di Sumatera Utara hingga Februari 2026 tetap menunjukkan kondisi yang solid," ujar Kepala OJK Provinsi Sumatera Utara Khoirul Muttaqien di Medan, Sumut, Selasa.
Muttaqien mengatakan salah satu indikator kestabilan perbankan Sumut ditunjukkan oleh nilai dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp340,2 triliun atau tumbuh 4,19 persen secara tahunan.
Lebih lanjut, ia mengatakan penyaluran kredit juga mencapai Rp315,12 triliun atau meningkat 4,27 persen secara tahunan.
"Kondisi itu menunjukkan aktivitas ekonomi dan pembiayaan sektor riil tetap tumbuh," katanya.
Ia menambahkan profil risiko perbankan juga tetap terjaga, tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) sebesar 1,91 persen dan loan at risk (LaR) sebesar 6,65 persen.
Di sektor bank perekonomian rakyat (BPR), total aset meningkat 10,40 persen secara tahunan menjadi Rp3,15 triliun. Penyaluran kredit tumbuh 9,09 persen menjadi Rp2,34 triliun, sedangkan DPK meningkat 8,31 persen menjadi Rp2,3 triliun.
"Namun demikian, rasio NPL BPR tercatat meningkat 217 basis poin menjadi 10,50 persen," ujarnya.
Dalam rangka memperkuat pelindungan masyarakat dan menjaga integritas sistem keuangan, OJK juga terus mendukung upaya pemberantasan judi daring melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.
Sejalan dengan itu, OJK telah meminta perbankan untuk melakukan enhanced due diligence (EDD) dan/atau pemblokiran terhadap 33.252 rekening yang terindikasi terkait aktivitas judi daring.
Pewarta: M Sahbainy NasutionEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026