Medan (ANTARA) - Masyarakat Melayu Indonesia mendesak Pemerintah RI segera menuntaskan permasalahan tanah ulayat dan tanah adat Masyarakat Melayu, dengan mengakui hak tanah ulayat dan tanah adat masyarakat Melayu.
Desakan tersebut disampaikan dalam “Maklumat Bersama” Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI), Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI), dan Gerakan Angkatan Muda Melayu Indonesia (GAMI).
Maklumat Bersama, yang dibacakan tokoh Melayu Prof Dr. Ir. Djohar Arifin Husin dalam acara Halal bi Halal Masyarakat Melayu Indonesia di Medan, Ahad (12/4/2026) tersebut, juga mendesak Pemerintah RI dan penegak hukum untuk mengembalikan hak-hak Kesultanan dan masyarakat Melayu atas tanah yang selama ini digunakan oleh perusahaan atau pihak ketiga.
“Kami mendesak Pemerintah dan aparat menindak dan menertibkan para penggarap tanah Ulayat dan Tanah Adat masyarakat Melayu. Kami serukan kepada seluruh Ormas Melayu untuk membentuk Lembaga Pengelola Tanah Ulayat dan Tanah Adat guna memperjuangkan hak masyarakat Melayu,” tegas Djohar Arifin Husin, Ketua Dewan Pakar PB MABMI yang juga dikenal sebagai cendekiawan Melayu ini.
Maklumat Elemen dan Organisasi Masyarakat Melayu Indonesia tersebut ditandatangani pucuk pimpinan tiga organisasi besar Melayu, masing-masing Ketua Umum Pengurus Besar (PB) MABMI Prof. Dr. H. OK. Saidin, SH, Mhum gelar Datuk Seri Amar Lela Cendikia, Ketua Umum PB ISMI Nizhamul, SE,MM gelar Datuk Seri Kesuma Setia Negeri dan Ketua Umum PB GAMI Muhammad Subandi, ST,MM gelar Datuk Setia Amanah Diraja Serdang.
Halal bi Halal Organisasi Melayu tersebut di Hotel Grand Mercure tersebut dihadari para Sultan Sumatera Timur dan tokoh-tokoh Melayu Sumatera Utara. Juga hadir dan mendengarkan maklumat yang disampaikan, adalah Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan Bachtiar Najamuddin.
Tekad Masyarakat Melayu
Selain desakan pengakuan Hak Tanah Ulayat dan Tanah Adat, masyarakat Melayu juga bertekad meningkatkan peran politik, agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam proses demokrasi di Indonesia, memunculkan tokoh Melayu menjadi pemimpin politik, eksekutif dan legislatif.
Juga memperkuat kehidupan beragama mewujudkan jati diri masyarakat Melayu yang Islami, beriman, dan bertaqwa. Kemudian, memperkuat pelestarian Adat Budaya Melayu, untuk menjunjung tinggi, menghidupkan, melestarikan adat istiadat Melayu, mengembangkan khasanah budaya Melayu, menghormati keberadaan warisan budaya Kesultanan dan Masyarakat Melayu di seluruh Nusantara budaya yang diakui dunia.
Ketua Umum PB MABMI Prof OK Saidin dalam sambutannya mengatakan, sebagai puak yang terlahir sebagai suku Melayu yang identik dengan Islam, puak Melayu setidak-tidaknya dapat mewarnai peradaban dunia atau setidak-tidaknya mewarnai peradaban Indonesia sebagaimana Melayu telah menyumbangkan Bahasa bagi peradaban negeri ini.
“Nilai-nilai kemelayuan harus terus dikumandangkan untuk menciptakan tatanan kehidupan dunia yang lebih berkeadilan. Sebuah tatanan nilai yang dapat menjadi rujukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah-tengah keberagaman,” ujar Guru Besar Fakultas Hukum USU tersebut.
Pewarta: JuraidiEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026