Madina (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, mengimbau masyarakat tetap tenang menyusul peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Sorik Marapi yang kini berstatus Level II (waspada).
Bupati Madina Saipullah Nasution mengatakan, kenaikan status tersebut berdasarkan laporan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) setelah terjadi lonjakan gempa vulkanik dalam beberapa hari terakhir.
“Status gunung sudah naik dari normal menjadi waspada. Masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari kawah, dan pendakian untuk sementara ditutup,” ujar Saipullah saat meninjau pos pengamatan di Desa Sibanggor Tonga, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Sabtu (4/4).
Ia menegaskan, meski aktivitas meningkat, masyarakat tidak perlu panik. Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau perkembangan aktivitas gunung secara intensif.
“Informasi akan disampaikan secara cepat dan berjenjang, sehingga masyarakat diminta tetap tenang,” katanya.
Pemkab Madina juga memastikan tidak ada aktivitas pengeboran oleh PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) di wilayah Puncak Sorik Marapi.
“Tidak ada kegiatan pengeboran. Ini murni aktivitas alam,” ujarnya.
Terkait fenomena panas yang muncul dari lantai Masjid Al-Muhajirin di Desa Parbangunan, pemerintah daerah telah meminta Badan Geologi melakukan pengecekan langsung untuk memastikan penyebabnya. Masyarakat diminta tidak berspekulasi agar tidak menimbulkan keresahan.
Data Pos Pengamatan Gunung Sorik Marapi mencatat, pada 2 April terjadi 115 kali gempa vulkanik dalam, empat kali gempa terasa, serta 11 kali gempa tektonik jauh.
Pada 3 April tercatat 56 kali gempa vulkanik dalam, satu kali gempa terasa, empat kali gempa tektonik jauh, dan lima kali gempa lokal. Sementara hingga pagi 4 April, terjadi 20 kali gempa vulkanik dalam.
Sementara itu, fenomena panas dilaporkan terjadi di dalam Masjid Al-Muhajirin, Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan. Lantai keramik dan tiang masjid tiba-tiba mengeluarkan suhu panas yang belum diketahui sumbernya.
Kepala Desa Parbangunan Miswar mengatakan, fenomena tersebut pertama kali diketahui saat jamaah melaksanakan shalat Subuh pada Sabtu.
“Belum ada kepastian terkait sumber panas tersebut. Kejadian ini mulai terasa sejak Jumat, namun baru pagi ini dilaporkan warga,” ujarnya.
Pemerintah desa bersama warga kemudian berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk PLN, aparat TNI dan Polri, serta pihak perusahaan dan ahli dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk melakukan pengecekan.
Hingga kini, masjid tersebut masih didatangi warga, namun pelaksanaan shalat berjamaah untuk sementara dihentikan hingga ada kepastian terkait kondisi tersebut.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madina, Mukhsin Nasution, mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab fenomena tersebut.
“Sore ini kami berencana membongkar sebagian keramik untuk melihat langsung sumber panasnya,” katanya.
