Medan (ANTARA) - PT Bank Sumut (Perseroda) mulai menerapkan relaksasi pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pascabencana di Sumatera Utara (Sumut).
Direktur Utama Bank Sumut Heru Mardiansyah mengatakan, pihaknya telah menyiapkan langkah teknis menjalankan relaksasi ini sesuai ketentuan regulasi pemerintah.
"Kami sudah siap menjalankan relaksasi sesuai ketentuan Permenko (Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian) dan aturan internal bank," tegas Heru di Medan, Sumatera Utara, Kamis.
Adapun kebijakan relaksasi pembiayaan KUR bagi pelaku UMKM ini, lanjut dia, yakni Permenko Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Kemudian, Permenko Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pascabencana di Wilayah Provinsi Aceh, Provinsi Sumatera Utara, dan Provinsi Sumatera Barat.
"Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan ekonomi di daerah terdampak, termasuk Sumatera Utara," kata Heru.
Pihaknya juga telah melakukan pemetaan awal terhadap debitur yang terdampak pascabencana hidrometeorologi akhir November 2025 di Sumatera Utara.
"Untuk tahap pemetaan awal terdapat sekitar 1.022 debitur yang masuk kategori terdampak. Kemudian yang masuk skema relaksasi sekitar 17.875 debitur dengan nilai baki debet sekitar Rp1,31 triliun," jelas Heru.
Selain itu, terdapat juga sekitar 1.081 debitur yang masuk kategori restrukturisasi dengan baki debet sebesar Rp69 miliar, dan kategori prioritas lainnya memiliki total nilai Rp60 miliar.
"Untuk sebaran debitur terdampak terbesar berada di wilayah Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Mandailing Natal," tutur Heru.
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) RI Maman Abdurrahman menyebutkan, pemerintah memberikan sejumlah program pemulihan bagi pelaku UMKM terdampak bencana di tiga provinsi Sumatera.
"Salah satu program tersebut adalah relaksasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi masyarakat yang terdampak bencana di wilayah Sumatera," ucap Maman setelah menghadiri rapat koordinasi Penyaluran KUR Pascabencana Sumatera di Kantor Gubernur Sumut, Rabu (11/3).
Dia mengatakan, secara nasional terdapat sekitar 193 ribu debitur UMKM terdampak bencana di tiga provinsi Sumatera dengan total baki debet sekitar Rp11 triliun.
Dari jumlah itu, di antaranya sekitar 44 ribu debitur berada di Sumatera Utara, sekitar 121 ribu debitur di Aceh, dan sekitar 27 ribu debitur di Sumatera Barat.
Menurutnya, angka ini masih bersifat sementara, dan diperbarui hingga batas akhir fase pemetaan hingga 31 Maret 2026.
"Dari 193 ribu debitur itu, sekitar 44 ribu UMKM sudah tidak memiliki kemampuan membayar, sementara 148 ribu masih mampu membayar. Karena itu penanganannya akan dibedakan," ujar Maman.
Adapun beberapa bentuk relaksasi, ungkap Maman, seperti penundaan pembayaran, perpanjangan tenor, restrukturisasi kredit hingga keringanan suku bunga.
"Pada tahun pertama, debitur terdampak tidak dibebankan bunga pinjaman. Jadi tidak dibebankan bunga, dan tahun depan nanti naik ke tiga persen," tegas Maman.
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menegaskan, pentingnya konsolidasi data antara pemerintah daerah, kementerian, dan bank penyalur KUR.
"Kami diberikan waktu untuk memastikan data dari daerah, bank penyalur, dan kementerian bisa disinkronkan. Targetnya pada 31 Maret datanya sudah final, sehingga program ini bisa langsung dirasakan masyarakat," kata Bobby.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Bank Sumut mulai terapkan relaksasi KUR pelaku UMKM pascabencana
Pewarta: Muhammad SaidEditor : Akung
COPYRIGHT © ANTARA 2026