Medan (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumatera Utara memperkuat literasi keuangan kepada sektor pendidikan terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di wilayah tersebut.
"Pada tahun ini, kami tetap memfokuskan literasi keuangan di daerah 3T, terutama di sektor pendidikan seperti sekolah menengah atas maupun pondok pesantren di daerah tersebut," ujar Kepala Kantor OJK Provinsi Sumatera Utara Khoirul Muttaqien di Medan, Rabu.
Muttaqien mengatakan, fokus literasi keuangan pada sektor pendidikan dilakukan karena banyak generasi muda yang berada di wilayah tersebut.
Menurut dia, penguatan literasi keuangan diperlukan agar generasi muda terhindar dari berbagai tindakan kriminal di ruang digital, seiring semakin masuknya akses internet ke daerah 3T.
"Masih banyak masyarakat di daerah tersebut yang menjadi korban investasi ilegal, scamming, maupun pinjaman daring ilegal," katanya.
Muttaqien mengatakan, salah satu wilayah yang telah dilakukan kegiatan literasi keuangan di Pulau Tello, Kabupaten Nias Selatan.
"Saya juga meminta agar ke depan program literasi keuangan dapat menjangkau daerah 3T lain yang belum mendapatkan kegiatan tersebut," ujarnya.
Ia menambahkan, program literasi keuangan juga menyasar kepada para penyandang disabilitas, guru, serta masyarakat umum guna mendorong transformasi ekonomi di wilayah tersebut.
Menurutnya peningkatan literasi keuangan merupakan salah satu komponen penting dalam pembangunan daerah, karena memberikan kontribusi positif terhadap sejumlah indikator ekonomi, antara lain pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan, ketimpangan pendapatan, serta kesejahteraan masyarakat.
OJK Sumut mencatat sepanjang 2025 telah melaksanakan sebanyak 1.289 kegiatan literasi keuangan yang terdiri atas 493 kegiatan di sekolah dan universitas, 22 kegiatan untuk UMKM, empat kegiatan bagi penyandang disabilitas, serta 770 kegiatan lainnya dengan total 155.930 peserta di 33 kabupaten/kota se-Sumut.
Pewarta: M. Sahbainy NasutionEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026