Medan (ANTARA) - Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia meresmikan groundbreaking (peletakan batu pertama) enam proyek hilirisasi di 13 lokasi di Indonesia total nilai investasi hingga 7 miliar dollar AS.
Proyek-proyek ini merupakan bagian dari agenda transformasi ekonomi nasional memperkuat sektor riil, meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri, menciptakan lapangan pekerjaan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
"Secara keseluruhan, proyek ini akan menyerap lebih dari 6.000 tenaga kerja langsung," ucap CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani dalam keterangan resmi di Medan, Senin (9/2).
Menurutnya, bahwa peresmian secara serentak ini menandai dimulainya implementasi proyek-proyek prioritas hilirisasi fase I yang dikelola secara terintegrasi lintas sektor.
Di antaranya energi, pangan, mineral, dan logam sebagai fondasi penguatan struktur industri nasional, dan pengurangan ketergantungan impor secara bertahap.
Ia menegaskan, program hilirisasi merupakan agenda strategis yang menjadi prioritas Presiden RI Prabowo Subianto sekaligus menjadi salah satu fokus utama Danantara Indonesia untuk mendorong transformasi ekonomi nasional.
"Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja," ujarnya.
Ke depan, lanjut dia, proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
"Melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, BUMN, dan mitra strategis, hilirisasi akan menjadi fondasi penting memperkuat kemandirian industri dan mendorong Indonesia menuju ekonomi yang lebih maju dan bernilai tambah tinggi," kata Rosan.
MIND ID bersama anggotanya INALUM dan ANTAM meresmikan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit – alumina – aluminium yang berlokasi di Mempawah, Kalimantan Barat.
Fasilitas ini terdiri atas smelter aluminium baru dengan kapasitas 600.000 metrik ton aluminium per tahun dan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II dengan kapasitas 1 juta metrik ton alumina per tahun.
Proyek ini ditujukan untuk mendukung program ketahanan mineral Indonesia serta mendukung pasokan bahan baku bagi di sektor industri manufaktur dalam negeri sebagai bagian dari penguatan rantai nilai industri nasional.
Melalui proyek strategis nasional ini, MIND ID mendorong peningkatan nilai tambah hingga 70 kali lipat, dari bauksit menjadi alumina dan aluminium.
"Hal ini didasari dari harga bauksit mentah di kisaran 40 dollar AS per metrik ton yang meningkat menjadi 400 dollar AS per metrik ton setelah diolah menjadi alumina, dan kembali melonjak hingga sekitar 2.800–3.000 dollar AS per metrik ton ketika diproses menjadi aluminium," tutur Rosan.
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin mengatakan, melalui hadirnya proyek ini dapat meningkatkan kemampuan produksi aluminium dalam negeri semakin kuat, serta menunjukkan Indonesia semakin mampu mengurangi ketergantungan impor aluminium.
Dengan hadirnya fasilitas ini, lanjut dia, dapat menurunkan tingkat ketergantungan impor dan berdampak pada peningkatan cadangan devisa.
Saat smelter aluminium baru beroperasi, diperkirakan cadangan devisa naik 394% atau dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun, dan pelaku industri manufaktur mendapat kepastian pasokan bahan baku dalam negeri.
Turut hadir peresmian groundbreaking 6 proyek hilirisasi fase oleh Danantara di Jakarta, Jumat (6/2), seperti Gubernur Kalimantan BaratRia Norsan, anggota DPR RI Komisi XII, Bupati Mempawah Erlina, Raja Mempawah XIV, Dewan Adat Dayak, jajaran direksi dan komisaris MIND ID, ANTAM, Bukit Asam, Inalum, dan PT Borneo Alumina Indonesia.
“Proyek ini adalah bentuk kontribusi Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ekonomi, dan memperkuat kedaulatan negara pada sektor mineral, demi peradaban masa depan Indonesia," pungkas Maroef.
Pewarta: Muhammad SaidEditor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026