Tapanuli Selatan (ANTARA) - Bahri Sinaga tak lagi muda, namun hidup memaksanya kembali memulai dari nol. 

Warga Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara itu menjadi salah satu penyintas banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kawasan tersebut pada 25 November 2025, bencana yang merenggut puluhan nyawa dan menyisakan duka mendalam.

Siang itu cuaca cerah, namun tampak tatapannya kosong. Bahri bersandar pada sebatang kayu yang berdiri tegak di antara ribuan kubik kayu berserakan, sisa terjangan banjir akibat hujan deras. 

Ia menatap tumpukan batang-batang kayu yang menjadi saksi bisu saat Sungai Garoga meluap, menyapu rumah-rumah dan harta benda warga tanpa ampun.

Kamis (25/12), Bahri menyantap nasi bungkus pemberian para relawan dan warga yang datang berdonasi. Wajahnya tampak letih, kata-kata nyaris tak keluar dari bibirnya. 

Yang tersisa hanyalah bayang-bayang peristiwa bencana yang terus berputar dalam benaknya.

“Sulit melupakan kejadian itu,” ujarnya lirih kepada ANTARA. Rumahnya di Desa Huta Godang tak lagi berbekas, digerus arus banjir. 

Yang tersisa hanya lantai rumah dan pakaian yang melekat di badan saat ia menyelamatkan diri.

Kehilangan tempat tinggal bukan satu-satunya beban. Bahri adalah seorang montir kendaraan bermotor, sumber penghidupan yang kini ikut lenyap. 

Bengkel dan peralatan kerjanya tak mampu bertahan dari terjangan air dan lumpur.

Kini, bersama istrinya, Bahri sementara tinggal di posko pengungsian Puskesmas Batang Toru, berjarak lebih dari lima kilometer dari sisa-sisa puing rumahnya (kampung halamnnya) 

Hari-harinya diisi dengan menunggu, tanpa kepastian arah masa depan, sambil menatap puing-puing rumahnya yang tersisa.

“Hidup rasanya mengambang. Tak punya apa-apa,” katanya sambil menggenggam nasi yang ia santap. 

Meski demikian, tekadnya tak sepenuhnya padam. Ia ingin bangkit demi menyambung hidup bersama istri dan anak-anaknya.

Kisah Bahri bukan satu-satunya di Garoga. Banyak penyintas lain mengalami nasib serupa—kehilangan rumah, pekerjaan, dan pegangan hidup. 

Mereka kini diliputi kebimbangan, tak tahu harus ke mana dan bagaimana memulai kembali.

Di tengah puing dan trauma, harapan itu masih ada, menunggu uluran tangan dan perhatian. 

“Kami mohon perhatian,” pesan Bahri pelan, mewakili suara para penyintas yang berjuang bertahan di atas sisa-sisa kehidupan mereka.



Pewarta: Kodir Pohan
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026