Medan (ANTARA) - Anggota DPR RI, Saleh Partaonan Daulay menilai kebijakan terbaru pemerintah terkait Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai terobosan penting dalam memperluas akses permodalan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hal itu disampaikan Saleh saat menghadiri sosialisasi KUR yang dihadiri bank penyalur, para kepala desa, camat, serta pelaku UMKM di Mandailing Natal, Rabu (4/12).
Pada kesempatan itu, Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia itu hadir bersama Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Koperasi dan UKM Maman Abdurrahman serta Surya Utama atau lebih populer dipanggil Uya Kuya.
Saleh menyebut keputusan Menteri Koperasi dan UKM bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sebagai langkah konkret dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat kecil.
Saleh menjelaskan bahwa pemerintah kini menetapkan ketentuan baru, yakni pinjaman KUR sampai Rp100 juta tidak lagi dipersyaratkan agunan.
“Selama ini KUR identik dengan agunan. Sekarang bantuan sampai Rp100 juta ke bawah tidak boleh lagi diminta jaminan,” kata Saleh.
Ia menilai kebijakan tersebut mengatasi persoalan klasik masyarakat miskin yang selama ini kesulitan mengakses pembiayaan kecil, berbeda dengan peminjam skala besar yang mendapatkan fasilitas lebih mudah.
Anggota DPR RI dari PAN itu juga mengapresiasi kebijakan diperbolehkannya penerima KUR mengakses pinjaman lebih dari satu kali.
“Dulu setelah dapat KUR, tidak bisa lagi menerima berikutnya. Sekarang boleh satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, bahkan lebih,” ujarnya.
Menurut Saleh, langkah itu penting untuk mendukung usaha masyarakat yang berkembang bertahap dan membutuhkan tambahan modal secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, Saleh turut menyoroti terbatasnya anggaran pemerintah untuk sektor UMKM yang dinilai belum sebanding dengan besarnya populasi pelaku usaha kecil di Indonesia.
“Anggarannya hanya sekitar Rp290 miliar setahun,” katanya. Meski begitu, ia mengapresiasi berbagai kegiatan pendampingan yang tetap dapat terlaksana secara maksimal.
Mandailing Arabika Coffee Didorong Masuki Pasar Eropa
Dalam kegiatan itu Saleh Partaonan Daulay juga mengajak pemerintah daerah dan masyarakat Mandailing Natal mengoptimalkan potensi Mandailing Arabika Coffee sebagai produk unggulan yang memiliki daya saing global.
Ia menilai kopi khas Mandailing memiliki karakter unik yang tidak dapat direplikasi di daerah lain.
“Bibitnya dibawa ke mana pun tidak akan sama. Kekhasan itu berasal dari kontur dan struktur tanah Mandailing,” ujarnya.
Saleh juga menyoroti masih banyaknya pelaku usaha dan petani yang kesulitan mengakses modal hingga Rp300 juta per tahun melalui KUR karena kendala bahasa dan kemampuan membuat proposal.
“Belum sampai ke bank saja masyarakat sudah takut dengan bahasa teknisnya, ditambah lagi soal proposal,” kata dia.
Ia meminta pemerintah daerah menyediakan pelatihan pembuatan proposal bisnis agar dana KUR tidak hanya terserap di Pulau Jawa, tetapi juga dapat diakses lebih luas oleh masyarakat Mandailing.
Saleh turut mengingatkan soal meningkatnya penjualan lahan masyarakat kepada pihak luar. Menurutnya, kondisi itu salah satunya dipicu oleh keterbatasan masyarakat dalam mengakses modal dan mengelola usaha.
“Banyak lahan yang sudah menjadi milik orang luar karena mereka lebih siap membuat proposal dan mengurus perizinan,” katanya.
Ia berharap penguatan kapasitas pelaku usaha lokal dapat meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat serta mendorong Mandailing Arabika Coffee kembali menembus pasar Eropa seperti masa kejayaannya.
