Tanjung Balai (ANTARA) - Bencana alam banjir dan tanah longsor yang melanda provinsi Sumatera Utara mengakibatkan sejumlah daerah termasuk Kota Tanjungbalai mengalami kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya jenis Pertalite.
Kelangkaan BBM tersebut terjadi pada Sabtu (29/11/2025), dimana warga kesulitan mendapatkan Pertalite yang biasanya tersedia di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Tidak hanya di SPBU, di "pertamini" atau pedagang eceran Pertalite juga tidak ditersedia, sehingga membuat warga kebingungan untuk mendapatkan BBM sebagai sumber energi utama kendaraan bermotor sebagai sarana transportasi.
Khairun, seorang warga mengaku sejak siang telah berkeliling dari SPBU ke SPBU lain untuk mendapatkan BBM jenis pertalite yang biasa digunakan untuk sepeda bermotor miliknya.
"Cemana ini cek, kereta (sepeda motor) ku kehabisan minyak, aku mencari Peralite tapi semua galon (SPBU) kosong. Udah susah kita ini," katanya dengan logat khas Tanjungbalai.
Keluhan serupa juga terlontar dari warga lainnya. Ahmad yang bekerja sebagai penarik beca bermotor (betor) juga mengeluhkan kelangkaan Pertalite. Padahal ia sangat tergantung dengan Pertalite untuk menggerakkan betornya sebagai sarana mencari nafkah.
"Jika besok masih tak ada Pertalite di galon, ku pastikan aku tak bisa kerja. Semoga kelangkaan BBM ini segera diatasi pemerintah," kata Ahmad.
Sementara itu, Andi pekerja SPBU 14.213.265 Jalan Jendral Sudirman, Sirantau, Kota Tanjungbalai menyatakan kelangkaan BBM jenis Pertalite terjadi karena tidak adanya pasokan dari Pertamina.
"Iya bang, Pertalite kosong. Belum ada masuk. Disini hanya ada Pertalite dan Solar. Kalau Solar masih ada," ujarnya kepada Antara.
Sementara itu, di SPBU Tuah 14. 213. 264 Jalan Arteri Kota Tanjungbalai terjadi antrean panjang kenderaan roda dua, roda tiga (betor) untuk mendapatkan BBM jenis Pertamax.
"Pertalite kosong, yang ada Pertamax. Mau tidak mau, terpaksa dibeli. Kalau tidak, mana bisa jalan kereta (motor) ku," sebut seorang warga yang mengaku cukup lama mengantre.
