Madina (ANTARA) - Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, sejak 21 hingga 25 November 2025 semakin meluas. Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Madina melaporkan 520 kepala keluarga (KK) mengungsi dari tiga desa di Kecamatan Muara Batang Gadis, sementara beberapa desa di Kecamatan Siabu dan Batahan turut terdampak banjir dan longsor.
520 KK mengungsi di Muara Batang Gadis
Banjir dengan ketinggian 1- 2,5 meter merendam pemukiman warga di Desa Lubuk Kapundung I, Lubuk Kapundung II, dan Hutarimbaru.
Di Desa Lubuk Kapundung I ada sekitar 200 KK mengungsi ke wilayah dataran tinggi Banjar Garabak dan Banjar Salamat. Sedangkan di Desa Lubuk Kapundung II sekitar 250 KK mengungsi ke balai desa dan SMA Negeri 2 Muara Batang Gadis. Dan di Desa Hutarimbaru 70 KK mengungsi ke rumah keluarga di lokasi relokasi banjir tahun 2009.
Hingga Selasa siang, hujan dengan intensitas sedang masih mengguyur wilayah setempat. Para pengungsi membutuhkan bahan pangan, selimut, tenda darurat, dan perlengkapan balita. BPBD bersama pemerintah kecamatan, TNI-Polri, dan perangkat desa telah mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk kaji cepat dan penyaluran kebutuhan dasar.
Banjir dan longsor di Kecamatan Siabu
Di Kecamatan Siabu, banjir terjadi di Desa Tangga Bosi setelah Sungai Aek Badan meluap dan memutus dek penahan sungai. Dampaknya, sekitar 40 hektare lahan pertanian terendam dan tanaman padi berusia 10 hari setelah tanam mengalami kerusakan.
Di Dusun Lubuk Sihim, Desa Muara Batang Angkola, longsor menyebabkan aliran air membawa kayu dan bebatuan hingga merusak satu unit warung warga. Akses menuju dusun tersebut juga dilaporkan sulit dilalui. Tidak ada korban jiwa dan tidak ada warga yang mengungsi.
Desa terisolir di Kecamatan Batahan
Banjir juga merendam Desa Batahan III, Batahan IV, dan Pulau Tamang. Tinggi genangan mencapai pinggang orang dewasa, menyebabkan akses jalan utama menuju dua desa tertutup.
BPBD mencatat beberapa dampak signifikan, antara lain, ribuan hektare kebun sawit terendam, akses kendaraan roda dua dan empat tidak dapat melintas, persediaan kebutuhan pokok warga diperkirakan hanya cukup untuk dua hari, tiga titik jalan provinsi ikut terendam serta rumah dan lahan warga di dataran rendah tergenang hingga lebih dari 50 sentimeter.
Meski demikian, tidak ada laporan korban jiwa maupun warga yang mengungsi dari wilayah tersebut.
BPBD: Pemantauan terus dilakukan
Kepala Pelaksana BPBD Mandailing Natal Mukhsin Nasution, S.Sos, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan dan koordinasi bersama lintas sektor untuk percepatan penanganan.
“Penyaluran logistik ke lokasi pengungsian sedang kami siapkan melalui BPBD dan Dinas Sosial. Kondisi di lapangan terus kami pantau mengingat potensi hujan masih cukup tinggi,” ujar Mukhsin dalam keterangannya yang diterima ANTARA.
BPBD mengimbau masyarakat di daerah rawan banjir dan longsor untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dan segera melapor apabila terjadi situasi darurat.
