Medan (ANTARA) - Sejumlah intervensi pasar yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) bersama tim pengendali inflasi daerah (TPID) dan instansi terkait dinilai mulai menunjukkan tren penurunan inflasi.
"Inflasi Sumut secara tahunan (year on year/yoy) di Oktober 2025 turun menjadi 4,97 persen dari sebelumnya 5,32 persen," ucap Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sumut Poppy Marulita Hutagalung dalam temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Rabu.
Ia mengatakan, intervensi pasar yang dilakukan Pemprov Sumut bersama TPID merupakan bagian dari Program Jaminan Kestabilan Harga Komoditi Pertanian (Jaskop).
Jaskop merupakan salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Gubernur Sumut Bobby Nasution atas komitmen pemerintah daerah menjaga stabilitas harga pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.
"Namun komoditas penyumbang inflasi masih didominasi oleh cabai merah, dan emas perhiasan," tutur dia.
Pemprov Sumut terus menjaga stabilitas inflasi hingga akhir tahun ini dengan menerapkan strategi 4K, yakni Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, Keterjangkauan Harga, dan Komunikasi Efektif.
Menurut dia, penguatan produksi dan pengelolaan stok dilakukan guna menjamin ketersediaan pasokan, terutama komoditas pangan strategis.
"Untuk kelancaran distribusi, Pemprov Sumut melakukan kerja sama antardaerah, sedangkan keterjangkauan harga dijaga melalui operasi pasar murah, inspeksi mendadak pasar dan distributor, serta penyaluran beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan)," ujar Poppy.
Pemprov Sumut juga meminta pemerintah kabupaten/kota se-Sumut agar setiap pasar memasang informasi harga acuan, baik harga eceran tertinggi maupun harga acuan penjualan.
"Ada 11 komoditas yang sudah ditentukan harganya oleh Bapanas (Badan Pangan Nasional). Hingga kini, ada 26 kabupaten/kota dengan 77 pasar memasang informasi harga guna memudahkan masyarakat dan memperkuat pemantauan harga," katanya.
Selain itu, Pemprov Sumut melalui BUMD juga ditugaskan menyalurkan cabai merah dari Jawa karena dinilai efektif menekan harga cabai di pasaran.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumut Yusfahri menjelaskan, sejumlah strategi pengendalian inflasi di sektor pangan dan hortikultura terus dilakukan.
Diantaranya peningkatan luas tanam melalui ekstensifikasi dan intensifikasi, penggunaan benih unggul bersertifikat, sistem pengairan yang baik, pengendalian organisme pengganggu tanaman, peningkatan kapasitas petani dan petugas lapangan.
"Perkiraan kita produksi beras di November 2025 mencapai 243.832 ton dengan kebutuhan 140.842 ton. Artinya, Sumut masih surplus beras 102.990 ton," ungkapnya.
Untuk komoditas cabai merah, lanjut dia, produksi di November 2025 diperkirakan 19.417 ton dengan kebutuhan 9.912 ton, sehingga terjadi surplus 9.505 ton.
"Sentra produksi cabai merah di Sumut pada tujuh kabupaten, yakni Karo, Simalungun, Tapanuli Utara, Dairi, Pakpak Bharat, Humbanghasundutan, dan Batu Bara," ujar Yusfahri.
