Madina (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) percepatan penanggulangan Tuberculosis (TBC) di aula kantor bupati setempat, Rabu (10/9).
Rapat koordinasi yang dihadiri Wakil Bupati, Atika Azmi Utammi, Pj Sekda, Sahnan Pasaribu, staf ahli para kepala OPD dan juga camat itu dibuka langsung oleh Bupati Mandailing Natal, Saipullah Nasution.
Saipullah menyampaikan, Pemkab Madina sudah memiliki Rencana Aksi Daerah (RAD) dalam penanggulangan tuberkulosis pada tahun 2022-2027.
RAD disusun dengan mengacu pada RPJMD Madina tahun 2021-2026 dan merupakan penjabaran dari strategis bidang kesehatan. Sedangkan dalam pelaksanaannya akan melibatkan seluruh stakeholder, jajaran pemkab dan dukungan lintas sektor serta dunia usaha.
Meskipun telah memiliki roadmap yang strategis untuk menanggulangi TBC ini, Saipullah menyebutkan masih perlu melakukan evaluasi terkait RAD yang sudah dibentuk, guna meningkatkan temuan kasus dan mencapai target eliminasi TBC tahun 2030.
"Dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, kita sepakat untuk melaksanakan langkah-langkah strategis di Madina," katanya.
Situasi TBC di global, kata Saipullah, Indonesia menjadi urutan ke-2 terbesar di dunia penyumbang kasus TBC dan delapan Provinsi dengan beban penyakit tertinggi penyumbang salah satunya Sumatera Utara (Sumut).
"Di Sumut, Madina nomor tujuh yang memiliki kasus tertinggi penyumbang TBC," katanya.
Kasus Tuberkulosis di Madina menunjukkan progres yang signifikan. Dari target 14.668 orang, sudah 7.771 orang yang diskrining, ini berarti sekitar 53% dari target telah tercapai. Untuk kasus TBC dari target 2.720 orang, sudah 1.172 kasus TBC yang ditemukan, ini berarti sekitar 43% dari target telah tercapai.
Tingginya kasus itu disebabkan masih banyak masyarakat yang enggan melakukan pemeriksaan karena stigma negatif terkait TBC.
Stigma ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang penyakit TBC, takut diisolasi, atau takut dianggap sakit parah.
"Saat ini ada 36 pasien yang sudah terdiagnosa TBC namun belum memulai pengobatan. Dan terdapat 38 pasien TBC SO yang putus berobat dengan alasan masyarakat masih percaya pengobatan tradisional," sebutnya.
Tingginya kasus TBC tersebut Bupati mengajak, untuk bersama-sama mengawal pelaksanaan rencana aksi daerah dengan sungguh-sungguh agar cita-cita eliminasi TBC di Madina tahun 2030 dapat tercapai.
"Komitmen ini tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan lintas sektor dan keterlibatan masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Madina, dr Faisal Situmorang menyampaikan, TBC masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan penanganan serius, serta merupakan salah satu program prioritas yang mendapat perhatian penuh dari Presidan Indonesia.
"Ini menjadi tantangan khusus di Madina. Pemkab melalui tim percepatan penanggulangan TBC telah menyusun RAD Tahun 2022-2027 sebagai pedoman dalam percepatan eliminasi," ungkap kadis.
Pewarta: HolikEditor : Akung
COPYRIGHT © ANTARA 2026