Humbahas (ANTARA) - Kapolres Humbang Hasundutan (Humbahas) AKBP Arthur Sameaputty memerintahkan anggotanya bergerak cepat mendalami peristiwa kebakaran lahan yang terjadi di Dusun VI Albung, Desa Parsingguran II, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbahas, Sumatera Utara yang mengakibatkan seorang petani perempuan inisial JB (48), tewas terbakar pada Sabtu (19/7), kemarin.

"Begitu kejadian kita ketahui, saya perintahkan Satreskrim gerak cepat lakukan pendalaman memastikan apa ada unsur kelalaian atau pelanggaran hukum disana," sebut AKBP Arthur, Senin (21/7).

Dia melanjutkan, korban JB yang merupakan warga Dusun IV Pealangge, Desa Parsingguran II, Pollung, Humbahas itu diketahui tewas terbakar dengan kondisi tragis yakni luka bakar 90 persen diseluruh bagian tubuh korban saat melakukan pekerjaan bersama suaminya HS sebagai petani untuk membuka lahan pertanian dengan cara membakar rerumputan semak.

"Berdasarkan keterangan suami korban, istrinya tidak sempat diselamatkan akibat terjebak diantara kobaran api dari lahan yang mereka bakar. HS memanggil korban namun tidak merespon. Korban diduga menghirup terlalu banyak asap sehingga tergeletak di lokasi kejadian yang membuat korban tewas terbakar," jelas Arthur.

Sementara dari jasad korban, AKBP Arthur mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan awal dan tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.

"Jasad korban kini di rumah sakit untuk autopsi lebih lanjut. Namun ketika tim identifikasi turun ke lokasi memeriksa tubuh korban,kita tidak menemukan adanya tanda kekerasan. Namun peristiwa naas ini akan tetap kita dalami," ungkap Arthur.

Kapolres juga menghimbau masyarakat agar memberhentikan sementara aktifitas ekstrim seperti membakar lahan untuk keperluan pertanian di tengah musim kemarau saat ini. Angin kencang dan cuaca panas dengan kegiatan membakar lahan sangat beresiko mengancam keselamatan nyawa.

"Mohon kepada warga untuk menghindari aktifitas yang beresiko tinggi seperti membakar lahan. Iklim saat ini sedang musim kemarau dan angin kencang sangat berbahaya. Saat ini sudah banyak kita ketahui bersama lahan, bukit dan gunung terbakar. Jangan sampai berikutnya menjadi korban," kata Arthur. 



Pewarta: Eben Ezer Pakpahan
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026