Medan (ANTARA) - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sedang mengkaji berbagai opsi dalam upaya meningkatkan kapasitas produksi aluminium menjadi 300 ribu ton per tahun.
"Itu yang sekarang lagi kita kaji. Apa opsi-opsinya bisa menaikkan kapasitas dari 274 ribu ton ke 300 ribu ton per tahun," ujar Head of Corporate Communication PT Inalum (Persero) Utrich Farzah di Medan, Rabu.
Bahkan, lanjut dia, Inalum dapat memproduksi di atas angka 300 ribu ton per tahun guna memenuhi kebutuhan domestik hingga mencapai swasembada aluminium nasional.
Salah satu opsinya menambah satu pot atau tungku dari total tiga pot pabrik smelter (peleburan) yang saat ini berfungsi di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.
Tercatat, PT Inalum (Persero) sepanjang 2024 telah memproduksi aluminium sebanyak 274.230 ton atau naik 27,61 persen dibanding tahun sebelumnya dengan volume penjualan tumbuh 25,55 persen menjadi 276.381 ton.
"Kalau kita bangun pot satu lagi, yakni pot 4 serta peningkatan kemampuan produksi tiga pot yang ada, kemungkinan kapasitasnya bukan hanya naik menjadi 300 ribu ton, tapi bisa sampai 400 ribu ton," jelasnya.
Namun, kata Utrich, apabila menambah satu pot lagi sebagai fasilitas untuk mencetak dan memproduksi aluminium memiliki kendala utama, yakni pasokan sumber listrik.
"Makanya kita kaji juga, bagaimana sih listriknya. Mungkin dari PLTA (pembangkit listrik tenaga air) Asahan 1 sama Asahan 3 untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi ini," tutur dia.
Pihaknya menyadari peningkatan pasokan listrik secara penuh untuk Inalum bisa mengorbankan pasokan listrik bagi masyarakat Sumatera Utara.
Sedangkan opsi lainnya juga sedang dikaji adalah peningkatan kapasitas pot yang sudah ada dengan teknologi terbaru dapat meningkatkan tonase aluminium.
"Dengan daya listrik yang ada saat ini, maka yang bisa kita lakukan adalah memperbarui kapasitas pot," ungkap Utrich.
Sebelumnya, Joko Widodo (Jokowi) ketika menjabat sebagai Presiden RI menyampaikan kebutuhan aluminium di dalam negeri mencapai 1,2 juta ton, dan 56 persen dari itu masih dipenuhi melalui impor.
Jokowi berharap agar Inalum dapat memenuhi kebutuhan di dalam negeri melalui smelter bauksit di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Soal rencana pengembangan ekosistem baterai EV di Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan memulai groundbreaking megaproyek ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) pekan ketiga di Juni 2025.
Proyek ini mencakup pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel (smelter HPAL), pabrik prekursor-katoda, serta fasilitas produksi sel baterai dan battery pack.
Nilai investasi yang dikucurkan diperkirakan mencapai sekitar 6–7 miliar dolar AS atau lebih dari Rp97–114 triliun, dan akan menciptakan lebih dari 20.000 lapangan kerja.
