Tapanuli Selatan (ANTARA) - Dalam rangka mempererat hubungan dengan insan pers serta mendorong peran media yang lebih konstruktif, PLTA Batang Toru yang dikelola oleh PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) menggelar Journalist Gathering bertajuk "Sinergi Energi Merajut Masa Depan". Acara ini berlangsung selama dua hari, Rabu–Kamis (23–24/4/2025), di Syaakira View and Resto, Aek Sabaon, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Salah satu pemateri utama, M. Sahrir, menyampaikan paparan mendalam mengenai dinamika media sosial dan tantangan yang dihadapi jurnalis di era digital. Ia menyoroti perbedaan esensial antara karya jurnalistik yang dilindungi undang-undang dengan konten bebas yang beredar di media sosial.

“Media sosial hari ini memberi ruang bagi siapa saja untuk menyebarkan informasi tanpa tanggung jawab yang memadai. Ini berbeda dengan karya jurnalistik yang harus melalui proses verifikasi, konfirmasi, dan taat pada kode etik,” ujar Sahrir, juga Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Sumut.

Ia juga mengajak para jurnalis untuk memperkuat kompetensi dan menjaga marwah profesi di tengah derasnya arus informasi. Dalam paparannya, Sahrir menekankan pentingnya pemahaman terhadap Undang-Undang Pers dan Keterbukaan Informasi Publik agar media dapat menjalankan perannya secara proporsional.

“Dengan hadirnya kecerdasan buatan, semua orang bisa menulis dan menyebarkan informasi. Tapi yang membedakan jurnalis sejati adalah integritas, akurasi, dan keberpihakan pada kebenaran serta kepentingan publik,” tambahnya.

Diskusi juga mengangkat isu-isu strategis terkait keberadaan PLTA Batang Toru, termasuk perannya dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional dan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Para peserta diajak untuk memandang peristiwa dan isu dari berbagai perspektif agar pemberitaan yang dihasilkan dapat berimbang dan berkontribusi pada pembangunan yang berkelanjutan.

“Media punya tugas bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendidik masyarakat dan menjaga kepentingan bersama. Keberadaan PLTA, misalnya, harus dilihat dalam konteks pembangunan nasional dan peningkatan kesejahteraan,” kata Sahrir.

Acara yang dimoderaroti Dr Mhd.Latip Kahpi ini diakhiri dengan diskusi interaktif antara peserta dan pemateri yang membahas praktik-praktik terbaik dalam menghadapi tantangan etika, perubahan teknologi, serta menjaga kepercayaan publik terhadap media di tengah dinamika informasi yang kian kompleks.



Pewarta: Kodir Pohan
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026