Kota New York akan mengenakan denda pada orang-orang yang menolak untuk mengenakan penutup wajah atau masker mengingat tingkat tes positif untuk virus corona baru naik di atas 3 persen untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, kata Walikota Bill de Blasio pada Selasa (29/9).

Di luar New York, 28 negara bagian lain mengalami peningkatan infeksi virus corona baru selama dua minggu terakhir, dan rawat inap COVID-19 meningkat di beberapa negara bagian Midwestern.

Pejabat Kota New York pertama-tama akan menawarkan masker gratis kepada mereka yang kedapatan tidak mengenakannya di publik. Jika orang tersebut menolak, mereka akan menghadapi denda yang tidak ditentukan, kata de Blasio kepada wartawan.

Baca juga: Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal sembuh dari COVID-19

"Kami tidak ingin mendenda orang, tetapi jika harus, kami akan melakukannya," katanya. Polisi kota New York dan petugas dinas kesehatan, antara lain, akan memberlakukan denda, katanya.

Denda akan mencapai 1.000 dolar AS, meskipun "sebagian besar" tidak akan melebihi 500 dolar AS, Mitch Schwartz, juru bicara walikota, menulis dalam email.

Dia menolak mengatakan apakah itu akan berlaku sama untuk petugas polisi kota New York, karena beberapa di antara petugas polisi itu sering terlihat tanpa masker, meskipun ada peringatan dari walikota.

Kebijakan serupa diberlakukan awal bulan ini oleh Otoritas Transportasi Metropolitan yang dikendalikan negara bagian, di mana penumpang yang menolak mengenakan masker di angkutan umum akan dikenai denda 50 dolas AS.

Baca juga: Jerman akan perketat pembatasan COVID-19

Tingkat tes virus korona positif harian di seluruh kota adalah 3,25 persen, menurut data sementara, pertama kali melebihi 3 persen sejak Juni.

Pada bulan April, ketika kota itu menjadi pusat global pandemi, lebih dari 5.000 orang dites positif setiap hari dibandingkan dengan beberapa ratus orang sekarang, bahkan saat pengujian semakin meluas.

Walikota De Blasio mengatakan kenaikan kasus COVID-19 baru-baru ini di kota New York sebagian terkait  dengan sembilan area dari 146 area yang menurut pejabat kesehatan kota telah mengalami peningkatan kasus COVID-19 yang mengkhawatirkan, termasuk di beberapa komunitas Yahudi Hasid.

Dia memperingatkan bahwa beberapa daerah dapat diperintahkan untuk menutup bisnis atau sekolah jika jumlah kasus infeksi virus corona terus meningkat meningkat. 

Pengumuman itu disampaikan oleh De Blasio ketika banyak siswa sekolah dasar kembali ke sekolah umum untuk pertama kalinya pada Selasa, yang merupakan suatu upaya untuk memberikan perpaduan pembelajaran langsung dan virtual yang telah dua kali ditolak ketika para guru dan kepala sekolah menyuarakan keprihatinan tentang kesiapsiagaan pandemi di kota New York.

Pemerintah kota itu telah mengatakan akan menutup sekolah lagi jika rata-rata kasus dalam  tujuh hari mencapai 3 persen atau lebih.

Rencana untuk memungkinkan restoran mulai menempatkan pelanggan di dalam ruangan dengan kapasitas 25 persen masih berlangsung untuk hari Rabu, kata de Blasio.

Dalam konferensi pers pada Selasa, Gubernur New York Andrew Cuomo menyampaikan kemungkinan menghentikan kembali kegiatan makan dalam ruangan di tempat-tempat makan atau menerapkan kembali pembatasan lainnya.

Cuomo, yang telah berulang kali berselisih dengan de Blasio mengenai siapa yang memiliki wewenang untuk memberlakukan atau melonggarkan tindakan pembatasan sosial, mengatakan dia akan bertemu pekan ini dengan para pemimpin komunitas Yahudi Ortodoks di Brooklyn serta di wilayah Nassau, Orange dan Rockland, di mana kasus infeksi virus corona juga meningkat.

Di tempat lain, dalam tujuh hari terakhir Missouri, Nebraska, North Dakota, South Dakota dan Wisconsin melaporkan rekor jumlah pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit. Pada Senin, North Dakota melaporkan 105 dan Wisconsin 640 pasien rawat inap.
 

Pewarta: Azis Kurmala

Editor : Juraidi


COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2020