Rantauprapat, 7/6 (Antara) - Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara menyatakan, empat Desa di dua kecamatan di daerah itu endemik atau rawan frambusia.
"Frambusia adalah penyakit infeksi kulit yang disebabkan bakteri," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu, Alwi Mujahid Hasibuan, yang dihubungi, Selasa.
Empat Desa yang dinyatakan endemik frambusia yaitu Desa Kampung Dalam Kecamatan Bilah Hulu, Desa Sei Sakat, Desa Sei Baru dan Desa Wonosari Kecamatan Panai Hilir.
Ia mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya pencegahan-pencegahan, diantaranya dengan memberikan obat kepada anak diatas umur dua tahun dan membangun fasilitas air bersih di tiga desa yang dianggap endemik frambusia.
"Penyakit ini dapat menyerang di areal wajah seperti hidung dan tangan, terutama bagi mereka yang dianggap kurang mampu secara ekonomi," katanya.
Frambusia atau lebih dikenal penyakit infeksi kulit "patek" yang mudah menular, penyakit ini ditandai dengan timbulnya bintil-bintik kecil berdekatan pada kulit berwarna kemerahaan kemudian bernanah.
Penyakit itu dikarenakan sanitasi yang buruk sehingga mengundang bakteri kuman penyakit di daerah minim fasilitas air bersih dan kurangnya pemahaman pengendalian tentang penyakit menular.
Sebelumnya Bupati Labuhanbatu, Pangonal Harahap, mengatakan, Kementerian Kesehatan RI menargetkan kegiatan Pemberian Obat dan Pencegahan Massal (POPM) Frambusia di daerah endemis, terpilih pada tahun 2016 diantaranya Kabupaten Labuhanbatu.
"Dalam rangka pemberian obat pencegahan massal frambusia, diharapkan camat, Kepala Puskesmas dan kader yang nantinya di daerahnya mendapat pengobatan massal frambusia aktif dalam upaya mencapai eradikasi frambusia 2020," katanya.***4***
Editor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA News Sumatera Utara 2016