Sabtu, 23 September 2017

Pedagang Gorengan Ini Terpaksa Gunakan Gas 15Kg

| 350 Views
id Pedagang goreng pakai gas 15kg
 Pedagang Gorengan Ini Terpaksa Gunakan Gas 15Kg
Salah seorang penjual goreng pisang asongan di Pandan yang terpaksa menggunakan gas elpiji 15kg. Padahal sesuai dengan ketentuan para pedagang kaki lima dan masyarakat miskin yang berhak menggunakan gas subsidi tersebut. (Jason/Antara)
Sampai saat ini gas subsidi 3kg masih langka di Kabupaten Tapanuli Tengah. Walaupun sudah ada instruksi bupati melakukan tindakan tegas kepada agen dan pangkalan, namun gas 3kg masih tetap langka
Pandan, 12/9 (Antarasumut)-Kelangkaan gas elpiji 3kg di Kabupaten Tapanuli Tengah terus berkelanjutan. Walaupun bupati Tapteng mengeluarkan pernyataan tegas agar dilakukan pengecekan kepada agen-agen dan pangkalan terkait langkanya gas bersubsidi di Tapteng tidak berdampak. Salah satu buktinya pedagang gorenganya yang setiap hari mangkal di simpang empat SDN bertingkat Pandan, terpaksa menggunakan gas elpiji 15kg, dan gas 5kg, karena tidak mendapat gas yang 3kg.
Adalah Samsu Rijal Siregar, (59), warga Pesantren Pandan selaku pedagang asongan gorengan menyampaikan keluhan sulitnya mendapatkan gas bersubsidi itu.
“Saya tidak sanggup lagi harus kocar-kacir mencari gas yang 3kg. Dan itu sudah berlangsung sekitar 3 minggu terakhir ini. Dari pada kami tidak bekerja, terpaksalah menggunakan gas elpiji yang 15kg dan yang 5.5kg. Jika tidak, maka kami tak jualan. Itu artinya kami tidak makan,”keluhnya.
Diungkapkannya, bahwa tabung gas elpiji yang 15kg bukan miliknya, karena ia tidak sanggup membeli tabung gas seharga Rp450 ribu. Beruntung ada tetangganya yang meminjamkan tabung gas yang 15kg, sehingga ia hanya mengisi ulang saja.
“Kalau sempat juga saya harus beli tabung gas, saya tidak tahu mau bilang apalagi. Sedangkan yang ini saja sudah sangat memberatkan. Dari pada kami tidak makan, terpaksalah menggunakan gas non subsisi. Sementara harga gorengan tidak berani kami menaikkan tetap Rp1.000/biji. Kalau dinaikkan nanti takut memberatkan kepada pelanggan,”katanya.
Iapun berharap kepada bupati Tapteng agar memperhatikan kehidupan para pedagang kecil dan pedagan kaki lima seperti dirinya yang terpaksa menggunakan gas 15kg.
“Seharusnya seperti kami inilah yang berhak mendapatkan gas subsidi itu bukan sebaliknya. Tapi mau bilang apa lagi pak, namanya orang kecil tidak sanggup berbuat apa-apa. Beruntung kalau bapak-bapak mau menyampaikan keluhan kami ini ke pak Bupati melalui berita, agar beliau tau bagaimana kondisi kami ini,”harapnya.
Sementara itu Kadis Perindag Tapteng, Berlin Doloksaribu yang dikonfirmasi terkait kondisi itu tidak mendapat respon. Ia hanya mengatakan terimakasih atas infornya, tidak ada tindakan langsung atau melihat kondisi yang terjadi di lapangan saat itu juga.
Padahal Bupati Tapteng dalam konfrensi Pers belum lama ini menegaskan, akan melaporkan dan mencabut izin setiap panggkalan atau agen yang nakal yang tidak menyalurkan gas elpiji bersubsi kepada masayarakat yang membutuhkan. Namun sampai saat ini belum ada informasi dari Perindag Tapteng apakah sudah ada pangkalan yang dilaporkan atau agen sesuai dengan perintah orang nomor satu di Tapteng itu.
 

Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARASUMUT 2017