Minggu, 20 Agustus 2017

Program Pilih Siswa Duta Percaya Diri Sekolah

| 936 Views
id seminar
Program Pilih Siswa Duta Percaya Diri Sekolah
Seminar (Ril)
Medan, 22/5 (antarasumut)- Heartindo bekerjasama Disdik Provsu menggelar workshop “Meningkatkan Rasa Percaya Diri dengan Penampilan Sendiri”. Sebanyak 103 sekolah mengikuti workshop atau pembekalan program percaya diri bagi siswa SMP/SMA se-Kota Medan di aula Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara (Disdik Provsu) Jalan Cik Ditiro Medan, Senin (22/5).

Workshop tersebut menghadirkan Psikolog Irna Minauli MPSi dan pewarta foto Irsan Mulyadi S.Sos. 

    
"Program ini untuk menyebarkan pemahaman pentingnya percaya diri pada remaja terutama pada siswa. Untuk itu, Heartindo menjalankan berbagai langkah sosialisasi dengan menggandeng Disdik Provsu," kata Direktur Heartkindo  dr Apsari Diana Kusumastuti MARS.
    
Disebutkannya, program tersebut diikuti 103 sekolah, terdiri dari 86 SMA dan 17 SMP se-Kota Medan. Program dijalankan selama lima bulan, dengan diawali audiensi dan pembekalan disertai workshop untuk 30 siswa terpilih sebagai Duta Percaya Diri masing-masing sekolah.
    
“Kita berharap anak-anak paham bahwa membandingkan diri sendiri dengan gambar media tidak ada gunanya, karena iklan tersebut bertujuan menjual produknya semata,” tutur Apsari. 
       
Sementara itu, Disdik Provsu menyambut baik program yang dijalankan Heartiondo.  “Kegiatan ini baik bagi anak-anak agar bisa beradaptasi dengan kondisi tubuh yang dimiliki,” kata Kepala Disdik Provsu Dr Arsyad Lubis diwakili Kabid Penjamin Mutu Pendidikan dan Tenaga Pendidikan (PMPTK) Suwardi. 
     
Suwardi juga menuturkan masa remaja memang diwarnai dengan masalah percaya diri. Untuk itu dia berharap program yang dijalankan Heartindo ini dapat berkelanjutan.
    
Sedangkan Psikolog Irna Minauli MPSi dalam paparannya mengakui, gambaran citra tubuh yang tercantum di periklanan berbagai media memengaruhi tingkat kepercayaan diri anak, termasuk kalangan remaja. 
    
"Iklan tersebut dianggap menghadirkan standar kecantikan yang belum tentu bisa dipenuhi dengan kondisi yang dimiliki remaja," ucapnya.
   
Akibatnya, kata Irna, beragam reaksi diupayakan demi menghindari tekanan sosial (celaan), dengan melihat sisi warna kulit, tinggi badan, bentuk wajah atau bentuk tubuh. Padahal, remaja perlu menyadari penghargaan terhadap diri dan bagaimana memperlakukan apa yang ada pada dirinya dengan baik.
    
“Media memberikan framing dengan menyajikan penampilan ideal seakan-akan standar yang baik untuk diadaptasi,” katanya. 
    
Penampilan ideal menurutnya adalah cara budaya menceritakan kepada individu seperti apa yang banyak diidamkan orang pada waktu tertentu.
    
Irna turut menyampaikan, defenisi percaya diri adalah kemampuan individu memahami kelebihan dan kekurangan dirinya. Pemahaman ini bisa diperoleh dari mana saja. Orang tua dan tenaga pendidik diimbau bisa menjadi media belajar yang baik bagi remaja untuk menjelaskan hal ini.
    
Pasalnya, kata Irna, rasa minder juga sering terjadi pada remaja karena tidak dibarengi dengan pengetahuan yang baik tentang perubahan fisik pada masa puber. Akibatnya mudah menyerap informasi yang beredar terkait standar kecantikan atau ketampanan.
    
Tak hanya remaja, anak prasekolah pun kadang disuguhi pemahaman menyimpang tentang kecantikan. Sering meniru model dandan dari tokoh putri seperti kebanyakan film, dinilai sebagai salah satu faktornya.
    
“Dari penghargaan orang tua yang berlebihan, ke depannya anak punya kecenderungan haus pengakuan dari lingkungan sosialnya. Parahnya lagi, ketika pengakuan tidak didapatkan, akan timbul kecewa berat,” imbuh Irna.
    
Selain itu, untuk meningkatkan kepercayaan diri anak pada kemampuan inteligensinya, anak patut didorong mengikuti kompetisi. Jika memungkinkan, dengan area saingan seluas-luasnya di luar sekolah. Dengan demikian, anak jadi bisa lebih mengenali kemampuannya. Jika ternyata kalah, maka akan belajar beradaptasi melihat kenyataan yang tidak sesuai gambaran idealnya.
    
Sementara, narasumber lain selaku pewarta foto, Irsan Mulyadi S.Sos mengungkapkan gambaran tokoh yang tampil di media tersebut tidak 100 persen berdasarkan fakta. Menurutnya ada ‘pemolesan’ digital sebagaimana diinginkan perusahaan periklanan terhadap si model.
    
Irsan Mulyadi mengajak siswa untuk cerdas melihat konten dan mengambil manfaat positif dari iklan dan interaksi media sosial. 

Editor : Akung

COPYRIGHT © ANTARASUMUT 2017